FK UNRI Taja Seminar Tuberkulosis (TB), Indra, Tingkat Kesadaran Masyarakat Berobat TB Masih Rendah

  • Ahad, 23 September 2018 - 21:39:13 WIB | Di Baca : 1423 Kali

 

SeRiau - Fakultas Kedokteran Universitaa Riau (FK UNRI) melaksanakan Seminar "Tuberkulosis" (TB) dan PPRA, di Gedung Daera Jalan  Ponegoro Pekanbaru. Seminar yang berlangsung selama dua hari, Sabtu (22/9) dan Minggu (23/9) ini diikuti sekitar 230 orang peserta berasal dari dokter umum di klinik Provider BPJS, dokter Internship dan Pre Intership.

Ketua panitia seminar dr Indra Yovi SpP (K) mengatakan sebagai pembicara menghadirkan 5 narasumber yakni dr Dani Rosdiana SpPD, dr Riza Yevri SpA, dr Mukhyarjon SpPD, dr Dewi Anggraini SpMK (K), dr Mulyadi SpBP. Pentingnya seminar TB bagi dokter ini untuk memberi gambaran dan mengetahui sejauhmana penanganan TB di Riau. Sebab, masih banyak kasus TB di masyarakat yang belum ditemukan. Kesadaran masyarakar untuk berobat bagi penderita TB juga masih sangat rendah." Oleh karena itu, kita merasa penting memberikan wawasan kepada dokter tentang cara penagulangan pencegahan TB apalagi bagi dokter FKTP dan intership dan pre intership," kata Indra

Loading...

Dikatakn Indra, saat ini tingkat kesadaran masyarakat terhadap pencegahan TB masih sangat rendah. Ini dibuktikan masih banyak ditemukan kasus TB, tapi hanya beberapa persen saja yang ditemukan. Riau secara nasional, masuk kategori garis merah artinya temuan kasus TB paling rendah dibawah Jambi." Persoalan ini yang harus dibenahi bagaimana kita bisa temukan orang yang gejala TB ditengah masyarakat," kata Indra.

Indra juga mengatakan ciri orang yang terindikasi gejala TB antara lain batuk selama 2 minggu, keringat malam, penurunan nafsu makan, sesak nafas dan berat badan menurun. Gejala ini jika di temukan maka, yang bersangkutan harus aktif berobat. Menangapi persoalan in, Indra menyarankan agar pemerintah mencari solusi pencegahan penularan TB dengan membuat Peraturan Derah (Perda) jangan membuang dahak sembarangan. Harus ada tempat atau cara yang baik membuang dahak jangan di sembarang tempat. Selain, Perda, solusi lainnya peran masyarakat secara aktif mencari pasien terindikasi TB dengan cara melibatkan kader RT,RW, posyandu serta yang terakhir dengan medical cek baik itu kerjasama dengan BPJS." Dengan tiga solusi ini bisa mengurangi pengidap TB. Oleh karena itu semua stakeholder baik pemerintah swasta dan masyarakat sama sama bertanggung jawab dalam menuntas penularan TB," kata Indra.

Sementara itu Wakil Dekan 1 FK UR Dr.dr. Elda Nazriyati M. Kes saat membuka seminar TB mengatakan kegiatan akan memberi manfaat bagi dokter baru dalam mensosialisasi penyakit TB dimasyarakat. Dokter juga ujung tombak dalam pencegahan TB." Perlu sosialisasi bagaimana mencegah TB salah satuya dengan cara hidup sehat," kata Elda.

Elda berharap ada kesadaran masyarakat yang berobat TB yang dinilainya masih rendah walaupun ada masyarakat yang ditemukan gejala TB." Pencegahan dan penanganan penderita TB ini membutuhkan waktu enam bulan rutin berobat tanpa putus. Kalau sekali saja putus, tidak makan obat sama juga tidak ada artinya," katanya. (zal)




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar