Olah Tandan Kosong Sawit Menjadi Pupuk Hemat 20 Persen

  • Selasa, 14 November 2023 - 14:55:02 WIB | Di Baca : 343 Kali

 


SeRiau - Pemupukan merupakan biaya yang paling mahal dalam mengolah kebun Kelapa Sawit yang biayanya mencapai 80 persen. Untuk mengurangi biayanya Divisi Teknologi Proses, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (TIN-FATETA-IPB University) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Selasa (14/11) perkenalkan pengolahan tandan kosong kelapa sawit menjadi pupuk.

Perkenalan itu dilakukan dalam Workshop Karbonisasi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya sebagai Soil Conditioner untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Efisiensi Pemupukan pada Perkebunan Kelapa Sawit.

Kegiatan yang digelar disebuah Hotel berbintang di Jalan Riau Kota Pekabaru itu merupakan rangkaian dari kegiatan Workshop yang akan dilaksanakan di 3 kota yaitu Pekanbaru, Medan dan Palangkaraya.

Data Ditjenbun menunjukkan luas areal kelapa sawit pada tahun 2022 mencapai 15,38 juta Ha dengan produksi Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sekitar 47 juta ton. Poyeksinya tahun 2050 akan dihasilkan biomassa TKKS sekitar 103 juta ton. Oleh sebab itu biomassa TKKS yang sangat melimpah perlu diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. 

Kepala Divisi Teknologi Proses, Program Studi Teknik Industri Pertanian, IPB University Dr Erliza Hambali menjelaskan, Biomassa TKKS dihasilkan pada proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi CPO. Jumlah yang dihasilkan sekitar 21% dari berat buah segar yang diolah. Saat ini pemanfaatan biomassa TKKS baik oleh Pabrik Kelapa Sawit ataupun oleh Masyarakat masih sangat terbatas. 

"Pemanfaatan biomassa TKKS secara komersial masih terbatas untuk kompos, mulsa dan pengerasan jalan-jalan di perkebunan. ASebagian besar biomassa TKKS masih ditimbun (open dumping) atau dibakar di incinerator. Oleh sebab itu perlu dicari alternatif pemanfaatan yang lebih bernilai tambah tinggi," ujar Dr Erliza Hambali kepada wartawan, Selasa (14/11).

Jadi satu diantara pemanfaatan biomassa TKKS yang bernilai tambah itu adalah dengan mengolahnya melalui proses karbonisasi dan memanfaatkannya sebagai Soil Conditioner untuk meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pemupukan pada perkebunan kelapa sawit.

"Berdasarkan hasil analisis budidaya perkebunan kelapa sawit, sekitar 80% biaya operasional perkebunan kelapa sawit adalah biaya pemupukan tanaman sawit, karena 100% pupuk yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit adalah pupuk kimia," ucapnya.

Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia pada perkebunan kelapa sawit.  Penggunaan pupuk kimia di perkebunan kelapa sawit selain harganya yang mahal, kadang-kadang juga terbatas ketersediaanya dan juga dapat berdampak negatif pada kesuburan tanah di lahan perkebunan kelapa sawit. 

Pada tanaman sawit kata Erliza, kebutuhan pupuk untuk setiap umur tanaman sawit berbeda-beda. Kelompok tanaman menghasilkan (TM) memerlukan dosis pupuk sekitar 2 – 4 kg/pohon dengan jumlah pemupukan 2 kali dalam 1 tahun. Bila diasumsikan 1 Ha kebun sawit dengan jumlah tanaman 143 pohon/Ha dengan kebutuhan pupuk sekitar 858 kg/Ha/tahun. 

"Dengan luas perkebunan sawit Indonesia pada tahun 2022 adalah 15,38 juta Ha, maka kebutuhan pupuk untuk perkebunan sawit Indonesia diperkirakan sekitar 13 juta ton/tahun," ungkapnya.  

Apalagi harga pupuk saat ini cukup tinggi, pupuk NPK Rp 17.000/kg, pupuk MKP Rp 47.000/kg, booster pelebat buah Rp 17.700, pupuk organik GDM Rp 150.000 /5 L. "Atas dasar itulah perlu dilakukan upaya-upaya untuk menurunkan biaya pemupukan perkebunan kelapa sawit, agar biaya budidaya perkebunan sawit semakin efisien," ujarnya.

Berbagai usaha sudah dilakukan oleh perkebunan kelapa sawit untuk menurunkan biaya pemupukan, seperti penggunaan TKKS untuk mulsa dan kompos. "Namun pengomposan TKKS membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat diserap oleh tanaman sawit mencapai 2 bulan dan juga masih membutuhkan biaya yang mahal dalam hal logistik dan distribusi untuk sampai ke kebun-kebun sawit," ucapnya.

Alternatifnya adalah menggunakan biochar atau karbon dari TKKS. Biochar hasil proses karbonisasi TKKS dapat digunakan sebagai Soil Conditioner untuk meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pemupukan pada perkebunan kelapa sawit.

Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University Prof Dr Herdhata Agusta mengatakan, menurut Sarwono (2008), dalam setiap ton tandan kosong kelapa sawit mengandung unsur hara N 1,5%, P 0,5%, K 7,3% dan Mg 0,9%. Dimana, N, P, K dan Mg merupakan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit. Selain unsur hara yang dikandung dalam biomass TKKS tersebut, juga terdapat mineral-mineral yang dibutuhkan oleh tanaman sawit. 

Penggunaan Biochar hasil proses karbonisasi TKKS sebagai soil conditioner tambah Prof Herdhata, memiliki keunggulan yaitu menjaga kelestarian kandungan bahan organik dan hara dalam tanah pada lahan perkebunan kelapa sawit. Dengan adanya usaha pengembalian bahan organik yang berasal dari biomass TKKS ke tanah di lahan perkebunan kelapa sawit, juga akan mempengaruhi populasi mikroba tanah secara langsung, yang akan berdampak dalam jangka panjang meningkatnya kesehatan, kesuburan dan kualitas tanah. 

"Kegiatan pemanfaatan biochar dari TKKS ini memiliki siklus yang sangat baik dimana produk ameliorant yang digunakan berasal dari sawit dan akan kembali kepada sawit," ujarnya.

Proses karbonisasi biomass TKKS menggunakan teknologi karbonisasi yang tepat hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit, dengan rendemen sekitar 30%.  "Selain dihasilkan biochar (karbon), juga dihasilkan vinegar wood (asap cair) sekitar 6% dan tar sekitar 3%.  Biochar (karbon) yang dihasilkan dapat digunakan untuk substitusi pupuk kimia dan mineral pada perkebunan kelapa sawit," ucapnya.

Bila hanya 50% saja biomass TKKS di Indonesia yang diolah menjadi biochar melalui proses karbonisasi dengan teknologi yang tepat, maka akan dihasilkan sekitar 7,5 juta ton biochar (karbon) TKKS. Artinya dapat mensubstitusi kebutuhan pupuk kimia sekitar 50%. 

Berdasarkan informasi dari PT BGA kata Prof Herdhata, penggunaan biochar (karbon) TKKS untuk subsitusi pupuk kimia, dapat mengurangi biaya pemupukan sebesar 20%. Jumlah ini sangat signifikan, mengingat 80% dari biaya perkebunan kelapa sawit adalah dari komponen biaya pemupukan. 

Kegiatan workshop ini bertujuan untuk mensosialisasikan teknologi proses karbonisasi TKKS yang tepat dan efisien, memberikan informasi karakteristik dan potensi biochar (karbon) TKKS sebagai Soil Conditioner untuk meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pemupukan pada perkebunan kelapa sawit, sosialisasi peluang substitusi pupuk kimia dengan pupuk organic yang berasal dari TKKS, mensosialisasi formulasi pupuk organik berbahan biochar (karbon) TKKS untuk perkebunan kelapa sawit, memberikan gambaran manfaat ekonomi, sosial, dan ingkungan pemanfaatan pupuk organik berbahan karbon TKKS.

Rektor Univeristas Lancang Kuning Prof Dr Junaidi SS MHum yang hadir karena Unilak sangat mendukung kegiatan itu menyampaikan, kegiatan ini memang cukup bagus dan Unilak akan mendrong dosen untuk mempelajarai dan meneliti agar hal itu bisa dimanfaatkan di Riau, karena kebun kelapa sawit di Riau cukup luas.

Kompartemen Riset GAPKI Riau A Fathoni yang juga hadir mengatakan untuk kebun sawit biaya pemupukan paling tinggi yakni mencapai 80 persen, jika memang bisa hemat 20 persen tentunya ini harus di terapkan. "Kita akan mempelajarinya secara rinci," ujarnya.

Workshop itu juga dihadiri oleh Head of Research & Development PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Adhy Ardiyanto SP MSi, karena PT BGA di Kalimantan Tengah sudah memulai menerapkannya. Kemudian hadir juga Beston - China Tom Zhang. (rls)





Berita Terkait

Tulis Komentar