Peter Gontha Sebut Bujet IMF-World Bank Besar tapi Bermanfaat

  • Senin, 08 Oktober 2018 - 00:34:21 WIB | Di Baca : 971 Kali

SeRiau - Pengusaha Peter F Gontha mengungkapkan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-World Bank) yang akan digelar di Bali perlu dipandang dari segi positif.

Hal ini disampaikan Peter menanggapi polemik terkait anggaran penyelenggaraan acara tersebut yang disebut-sebut bombastis, yakni mencapai sekitar US$37,7 juta atau setara Rp855 miliar.

Melalui laman Facebook Pribadinya, Peter berpendapat, anggaran tersebut memang besar, namun bila diperhitungkan dampak positif yang akan didapat Indonesia, maka angka itu dapat dipertanggung jawabkan.

Loading...

"US$37.7 juta hanyalah sebesar US$0,14 per kapita. Sebagai salah satu negara yang termasuk 15 ekonomi terbesar di dunia, bahkan secara purchasing power parity (paritas daya beli) di atas Perancis, yang notabene nomor 7 di dunia, angka ini sangat kecil. Memang kalau dilihat secara absolut tentunya angka ini besar. Namun semua, menurut saya, harus dilihat secara relatif," jelas Peter dilansir melalui laman Facebooknya, Minggu (7/10).

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Polandia itu, suksesnya perhelatan IMF-Bank Dunia yang ke-72 akan membawa nama Indonesia kedalam kategori negara yang berhasil. 

Dalam acara ini akan banyak peserta. Dari luar Negeri diperkirakan sebanyak 18.000 orang, sedangkan dari dalam negeri 13.000 orang.

Selama sepekan mereka diperkirakan akan berkontribusi sebesar US$50 juta - US$60juta pada peningkatan produk domestik bruto (PDB) Bali yang sudah berada di 5,9 persen menjadi 6,5 persen. Jumlah ini di atas rata rata PDB Indonesia sebesar 5,4 persen. 

Selain itu, masih ada potensi Kontrak dan peluang lain yang akan diciptakan dari pertemuan ini.Seperti hadirnya MDB's (Multilateral Development Banks) yakni, dari European Investment Bank, World Bank, Asian Development Bank, Inter-American Development Bank, European Bank for Reconstruction and Development - African Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank, Islamic Development dan lain-lain. Tentunya, kata Peter, hal ini akan membawa dampak yang begitu besar. 

"Uang yang dibelanjakan juga akan diserap oleh ekonomi kita sendiri. bukan dibelanjakan keluar negeri," kata dia.

Lebih jauh, Peter mencontohkan pada gelaran IMF-Bank Dunia di Singapura pada 2006 lalu. Perhelatan yang berlangsung selama sepekan itu diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar USS$170 juta bagi Singapura dalam bentuk kontrak, peluang bisnis, pariwisata dan penerimaan ritel, maupun pengeluaran oleh lembaga keuangan. Terkait dengan penyelenggaraan di Indonesia, menurut Peter, sedianya juga perlu dilihat dari sisi potensi positifnya.

"Mengapa kita selalu mau mengecilkan diri kita, dan selalu melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi. Selalu kita mengeluh kita kalah dari Singapura dan Malaysia, tetapi kalau kita lakukan sesuatu yang besar kita selalu menjelekan negara kita sendiri," kata dia.

Meskipun demikian, Peter menilai kritik yang disampaikan berbagai pihak sebagai hal positif. Ini sebagai kritik yang tujuannya lebih baik untuk Indonesia. Namun sedianya dalam menyampaikan informasi perlulah dengan data yang akurat.

"Saya mengerti kalau selalu ada orang yang kritis, kita memerlukan mereka juga, supaya ada cek and balance. Namun marilah kita bersama membuktikan bahwa mereka salah dengan bekerja sama. Namun kepada yang kritis kita juga mengharapkan mereka memperlihatkan data yang akurat dan objektif," kata dia.

Sebelumnya, gelaran IMF-Bank Dunia yang akan digelar di Bali pada 8 hingga 14 Oktober 2018 mendapat sorotan lantaran besarnya biaya yang diperlukan untuk hajatan tersebut. Salah satu pihak yang menyoroti hal ini adalah Rizal Ramli, anggota tim ekonomi pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Rizal menganggap pertemuan IMF tidak perlu menghabiskan dana sekitar Rp800 miliar. Menurutnya, tugas negara penyelenggara hanya menyediakan tempat, makan, dan penjemputan sehingga tak perlu mencapai angka sebesar itu.

Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief, ikut berpendapat mengenai hal ini. Ia mengkritisi pertemuan tersebut dengan membandingkannya pada era Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Andi mengklaim gelaran acara pada zaman SBY tak pernah sampai menghamburkan uang negara.

"Pak SBY dan kabinet di tahun 2014 tentu tidak berharap pertemuan IMF jadi pesta-pesta yang memakan uang sebesar sekarang. Event internasional yang setara jaman SBY gak pernah hamburkan uang negara sebesar pertemuan IMF bali ini," tulis Andi melalui akun Twitternya, Minggu (7/10).

Lebih jauh, Andi menyebut kabar rencana IMF telah diajukan sejak masa pemerintahan SBY merupakan lelucon. Dia memandang dalih itu hanya sebagai kedok untuk pertemuan mewah para renternir alias tengkulak semata.

"Menghamburkan uang negara hampir triliunan buat pertemuan para rentenir, lalu berlindung dibalik ini diajukan para menteri jaman SBY adalah dagelan," lanjutnya. (**H)


Sumber: CNN Indonesia




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar