Prabowo Heran RI Surplus tapi Impor Beras, Jokowi Beberkan Data

  • Ahad, 17 Februari 2019 - 23:08:45 WIB | Di Baca : 170 Kali

SeRiau - Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mempertanyakan mengapa di jaman Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) banyak sekali melakukan impor beras. Kegiatan impor dikatakan tidak mendukung petani dalam negeri.

"Jokowi waktu menjabat presiden bilang tidak akan impor komoditas pangan ternyata 4 tahun menjabat banyak sekali impor pak, ada datanya semua ini. Terus terang saja ini sangat memukul kehidupan para petani kita," ujarnya di Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Jokowi membantah jika ada surplus beras. Pemerintah melakukan impor untuk stabilitas pangan dan dapat dikeluarkan di waktu-waktu khusus seperti halnya bencana.

Loading...

"2014 kita impor 3,5 juta ton jagung, 2018 kita hanya impor 180 ribu ton. Artinya petani jagung kita produksi 3,3 juta ton sehingga impor itu sekarang dipastikan berkurang. Ini tidak mudah seperti membalikan tangan sehari butuh waktu panjang," ujarnya

Dia menambahkan, Indonesia bahkan telah terbukti meningkatkan produksi berasnya sejak tahun 1984.

"Di bidang beras sejak 2014 sampai sekarang impor kita turun dan produksi beras kita tahun 1984 swasembada memang sebanyak 21 juta ton produksi beras. Namun sekarang produksi kita mencapai 33 juta ton. Konsumsi kita itu saat ini 29 juta ton, artinya ada stok atau surplus sebanyak 2,8 juta ton. Kita itu surplus," jelas dia.

"Jadi kenapa kita impor? Ya untuk menjaga ketersediaan stok, stabilitas, harga untuk punya cadangan bencana gagal panen," ia menambahkan.

Prabowo Curiga Mendag Tidak Lapor Impor ke Jokowi

Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto mencurigai Menteri Perdagangan tidak melaporkan perubahan aturan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal tersebut karena adanya impor bahan pangan sehingga membuat petani tertekan.

Prabowo mengatakan, telah terjadi perubahan aturan impor yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Sebelum berubah, ada aturan yang menyatakan tidak ada impor satu bulan menjelang masa panen dan dua bulan setelah masa panen. Namun dengan perubahan ini tidak ada pembatasan sehingga bisa impor kapanpun.

"Mendag tidak melaporkan ke Bapak bahwa telah mengubah Keputusan Menteri soal impor ini," kata dia saat Debat Capres kedua yang berlangsung di Hotel Sultan, Minggu (17/2/2019).

Dengan adanya aturan impor tersebut membuat para petani tertekan. Alasannya, impor membuat harga pangan produksi petani jatuh karena pasokan melimpah. (**H)


Sumber: Liputan6.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar