16 Hari Kebanjiran, Warga Desa Buluh Cina di Riau Butuh Bantuan Pakaian

  • Rabu, 19 Desember 2018 - 23:15:39 WIB | Di Baca : 164 Kali

SeRiau - Banjir masih melanda warga Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Terhitung hingga hari ini, Rabu (19/12/2018), sudah 16 hari warga Desa Buluh Cina kebanjiran.

Kendati demikian, warga masih minim mendapatkan bantuan makanan. Bahkan, saat ini para korban banjir butuh bantuan pakaian.

Loading...

"Bantuan pakaian sampai sekarang memang belum ada. Warga sangat membutuhkan, karena banjir di desa kami sudah 16 hari," kata Sekretaris Desa Buluh Cina, Rusdianto saat ditemui!Kompas.com, Rabu.

Namun, kata dia, bantuan sembako sudah disalurkan beberapa hari lalu. Kemudian obat-obatan juga sudah memadai karena pemerintah desa berkoordinasi dengan puskemas setempat.

Rusdianto mengatakan, banjir saat ini sudah memasuki tahap surut. Dia memprediksi dua hingga tiga hari ke depan akan mengering. Sebab, pintu air waduk PLTA Koto Panjang sudah mulai ditutup.

"Memang sudah jauh surut. Tapi masih ada sebagian rumah yang kebanjiran," kata Rusdianto.

Dia menyebutkan, selama dua pekan kebanjiran, warga lambat mendapat bantuan dari pemerintah setempat.

"Bantuan memang lambat datang. Mungkin (Pemkab Kampar) baru mengetahui desa kami banjir. Tapi beberapa hari lalu alhamdulillah bantuan sembako sudah ada dari pemerintah dan juga pihak swasta," sebutnya.

Menurut dia lagi, banjir selama dua pekan sangat berdampak pada perekonomian masyarakat.

"Sangat berdampak sekali. Ekonomi masyarakat boleh dikatakan sudah darurat. Karena mereka tidak bisa bekerja," akui Rusdianto.

Selama dua pekan kebanjiran, lanjut dia, ketinggian air lebih dari satu meter, yang merendam seluruh rumah warga berjumlah sekitar 260 KK.

Untuk beraktivitas, warga terpaksa menggunakan perahu. Itu pun bagi yang punya.

"Masyarakat rata-rata bertahan di rumah. Kan mereka takutnya juga barang-barang hilang dicuri atau dijarah orang. Sedangkan yang mengungsi ke rumah keluarganya di Desa Baru sekitar 20 kepala keluarga (KK)," sebutnya.

Selain rumah, banjir juga melanda sekolah, tempat ibadah dan ribuan hektar sawit dan karet.

"Kalau kerugian masyarakat belum dapat dihitung secara rinci. Karena di sini kayak sawit ada milik warga dan juga perusahaan," tambah Rusdianto.

Sebagaimana diketahui, banjir di Kabupaten Kampar terjadi sejak Minggu (9/12/2018). Banjir akibat luapan air Sungai Kampar yang merendam warga di sisi hilir sungai. (**H)


Sumber: KOMPAS.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar