Ceramah Berbau Provokasi dan Langgar PSBB, Seret Bahar bin Smith ke Gunung Sindur

  • Rabu, 20 Mei 2020 - 03:49:03 WIB | Di Baca : 1463 Kali

SeRiau - Diduga ceramah mengandung provokasi, Bahar bin Smith yang baru saja menghirup udara bebas, kembali dijebloskan ke penjara.

Kali ini, Bahar harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Kelas llA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (19/5/2020) dini hari.

Tak hanya itu, Bahar menempati sel khusus atau one man on cell (straf cell) Blok A yang didominasi oleh tahanan teroris.

Loading...

Di blok tersebut, menurut Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Khusus Kelas llA Gunung Sindur, Mulyadi, para tahanan boleh dibesuk oleh siapapun, termasuk pihak keluarga.

"Benar Blok A kamar 9 (khusus napi teroris) sampai lebaran semua Napi tidak bisa dibesuk (termasuk dia)," ucap Mulyadi saat dihubungi Kompas.com.

Sementara itu, kuasa hukum Bahar, Aziz Yanuar, sempat memprotes kliennya ditempatkan di blok tersebut.

"Alasannya itu tadi kenapa di Gunung Sindur (tahanan teroris) kita enggak tahu karena tidak bisa masuk," kata Azis saat dikonfirmasi terkait perkembangan penangkapan kliennya.

"Hampir 50 orang lah tadi ikut aksi minta bebas atau paling tidak diijinkan kami pengacara dan keluarga bertemu tapi sampai sekarang tidak bisa," imbuhnya.

Ceramah dianggap berbau provokasi

Aziz mengatakan, penangkapan kliennya pada Selasa (19/5/2020) pukul 02.00 WIB tersebut, diduga terkait ceramah pada acara Sabtu (16/5/2020) malam.

"Kami menduga ini terkait ceramah Beliau, karena ceramah pada Sabtu malam itu menjadi viral dan sangat menyinggung penguasa," kata Aziz Yanuar kepada Kompas.com.

Namun, menurutnya, tudingan itu tidak berdasar dan subyektif. Pihaknya berencana akan melayangkan protes ke Kemenkumham.

"Ceramahnya yang telah beredar berupa video yang menjadi viral, dinilai dapat menimbulkan keresahan di masyarakat dan melanggar aturan PSBB dalam kondisi darurat Covid-19 Indonesia, dengan telah mengumpulkan massa (orang banyak) dalam pelaksanaan ceramahnya. Itu juga tak berdasar dan subyektif," jelasnya.

Asimilas Dicabut

Sementara itu, Aziz mengaku telah menerima surat pencabutan hak asimilasi kliennya dari Kemenkumham.

Dalam surat tersebut dijelaskan, berdasarkan penilaian dari Petugas Kemasyarakatan Badan Pemasyarakatan (PK Bapas) Bogor, Bahar dinilai tidak mengindahkan dan mengikuti bimbingan yang diberikan oleh PK Bapas Bogor.

Seperti diketahui, PK Bapas Bogor memiliki kewenangan untuk melakukan bimbingan dan pengawasan pelaksanaan asimilasi di rumah narapidana.

"Alasan yang dituduhkan dan dianggap pelanggaran itu tidak berdasar dan sangat subjektif," ungkap Aziz.

Sementara itu, menurut Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Reynhard Silitonga, ada beberapa pelanggaran yang dilakukan Bahar saat menjalani program asimilasi.

Pertama, ceramah yang dilakukan saat setelah bebas diketahui bernada provokasi dan menyebarkan rasa permusuhan kepada pemerintah.

Kedua, yang bersangkutan dinilai melanggar penerapan PSBB karena mengumpulkan banyak jemaah dalam ceramahnya.

"Atas perbuatan tersebut, maka kepada yang bersangkutan dinyatakan telah melanggar syarat khusus asimilasi, sebagaimana diatur dalam Pasal 136 ayat 2 huruf e Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018 dan kepadanya dicabut asimilasinya," kata Reynhard.

Seperti diketahui, sebelumnya terpidana kasus penganiayaan dua remaja tersebut bebas asimilasi bersama 7 narapidana LP Cibinong.

Bahar bebas asimilasi karena sudah menjalani setengah dari masa tahanannya, 3 tahun. (**H)


Sumber: KOMPAS.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar