Dolar Nyaris Rp15.200, BI Klaim Masih Aman

  • Kamis, 04 Oktober 2018 - 19:10:36 WIB | Di Baca : 156 Kali

 

SeRiau - Bank Indonesia (BI) mengklaim pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh kisaran Rp15 ribu per dolar ASdalam beberapa hari ini masih aman. Dalihnya, suplai dan permintaan dolar AS di dalam negeri masih terjaga. 

"Jangan lihat level (nominal rupiah), ini masih aman, yang penting supply and demand mash jalan," ucap Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara di Kompleks Gedung BI, Kamis (4/10).

Loading...

Menurut Mirza, terjaganya suplai dan permintaan dolar AS tercermin dari hasil pemantauan bank sentral yang menunjukkan bahwa kondisi likuiditas di lembaga keuangan masih mencukupi. 

Ia mencontohkan, rata-rata rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank saat ini masih berada di atas 20 persen. Hal ini terjadi di kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I-IV atau bank dengan modal minim sampai yang paling besar. 

"BUKU I sampai BUKU IV, (CAR) di atas 20 persen, jadi strong (kuat), soalnya minimum kan 8,5 persen. Kalau pakai risiko, minimumnya 14 persen, tapi sekarang semua di atas 20 persen," terangnya. 

Sekalipun ada indikasi pengetatan likuiditas, Mirza memastikan bank sentral akan segera bergerak untuk menstabilkan likuiditas. Misalnya, menyediakan instrumen atau skema baru yang bisa menambah pasokan likuiditas dolar AS di dalam negeri. 

"BI selalu siapkan likuiditas dengan nama term repo. Jadi BI pasti akan masuk ke pasar untuk tambah likuiditas, jika likuiditas rupiah mengetat. Tapi, saat ini likuiditas masih cukup," tekannya. 

Cara lain, misalnya dengan kebijakan menaikkan bunga acuan. Hal ini dilakukan agar pasar keuangan Indonesia kian menarik dan berdaya saing, sehingga investor dari negara lain tetap tertarik untuk masuk ke Tanah Air. Dengan begitu, akan ada aliran modal asing ke dalam negeri dan menambah pasokan dolar AS.

Di sisi lain, Mirza meminta masyarakat tidak khawatir melihat nilai tukar rupiah saat ini yang sudah berada di kisran Rp15 ribu per dolar AS. Hal ini karena rupiah terlihat lemah hanya karena nominal, tapi tingkat depresiasinya tidak sebesar itu. 

Selain itu, pelemahan mata uang juga dialami oleh negara-negara luar, misalnya India, Filipina, Meksiko, Brasil, hingga Afrika Selatan. "Bahkan negara-negara maju yang suku bunganya lebih rendah dari AS juga mengalami pelemahan kurs, Australia juga," pungkasnya.

Di pasar spot, rupiah dibanderol di angka Rp15.188 per dolar AS. Sementara kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor BI), menempatkan rupiah di Rp15.133 per dolar AS.

 

 


Sumber CNN Indonesia




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar