Dua Eksoplanet Diduga Miliki Karakter Serupa Bumi

  • Jumat, 29 Juni 2018 - 18:59:54 WIB | Di Baca : 30 Kali

SeRiau - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa ada dua planet di luar tata sura (eksoplanet) yang memiliki kemiripan karakter dengan Bumi.

Hal itu lantaran kedua eksoplanet memiliki musim dan iklim yang relatif stabil, sama halnya dengan Bumi.

Kepler-196f dan Kepler-62f yang berada di zona layak huni di tata surya masing-masing. Sama seperti Bumi, kedua eksoplanet juga memiliki jarak yang tepat dengan mataharinya hingga memungkinkan ada sumber air di permukaan planetnya.

Loading...

Para peneliti dalam studi ini menduga kemiringan poros kedua eksoplanet juga sama dengan Bumi. Dari serangkaian simulasi dilakukan untuk memastikan dinamika poros, peneliti melihat bahwa kemiringan poros Kepler-186f dan Kepler-62f cukup stabli seperti Bumi.

Kemiringan poros Bumi berkisar di antara 22,1 dan 24,5 derajat dengan kestabilan yang dibantu oleh bulan. Meskipun peneliti belum mengetakui apakah kedua eksoplanet juga memiliki satelit, namun perhitungan sudah menunjukkan bahwa kemiringan poros tetap stabil selama puluhan juta tahun.

Pasalnya, syarat berada di zona laik huni saja tidak cukup untuk membuat planet benar-benar bisa mengakomodir kehidupan. Contoh konkret adalah planet Mars yang tidak memiliki kehidupan walaupun berada di zona laik huni.

Alasannya karena kemiringan poros Mars tidak stabil -- dapat bergerak antara 0 sampai 60 derajat yang bisa berujung pada kondisi tak laik huni. Para peneliti menduga kestabilan kemiringan poros menyebabkan kerusakan pada atmosfer planet dan menguapnya air di permukaan tanah.

Hasil studi ini bukan berarti kedua eksoplanet memiliki iklim dan musim yang stabil. Peneliti menganggap keduanya berpotensi positif untuk kehidupan di luar Bumi.

"Bahkan di bumi, kehidupan sangat beragam dan telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah lingkungan yang berbahaya. Namun, planet yang memiliki kestabilan iklim mungkin akan menjadi tempat yang baik untuk memulai," ujar salah satu peneliti, Yutong Shan seperti dikutip dari Tech Times. (**H)


Sumber: CNN Indonesia




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar