Perputaran Uang Mudik dan Libur Lebaran Rp 188,2 triliun

  • Selasa, 12 Juni 2018 - 16:30:46 WIB | Di Baca : 131 Kali

SeRiau - Idul Fitri bermakna hari kemenangan bagi umat Islam setelah 30 hari berpuasa mengendalikan dan melawan hawa nafsu. Sedangkan, bagi Republik ini, Lebaran berdampak besar pada perekonomian nasional.

Ini terjadi karana kebanyakan umat muslim Tanah Air berbelanja berbagai macam kebutuhan untuk menyambut Idul Fitri. Mulai dari menyiapkan panganan khas Lebaran dan pakaian baru yang umumnya dipakai di hari kemenangan untuk bersilahturahmi.

Perputaraan uang tak hanya berhenti sampai di situ, arus mudik dari kota-kota besar ke daerah, terutama di Pulau Jawa, juga menggerakan roda perekonomian daerah yang bersangkutan.

Loading...

Terlebih lagi masa cuti bersama dan libur Lebaran tahun ini berlangsung selama 10 hari, yakni dari 11 hingga 20 Juni 2018. Dengan rincian dua hari libur Idul Fitri 1439 Hijriah yaitu 15 dan 16 Juni 2018, serta tujuh hari cuti bersama.

Meski mendapat protes dari kalangan pengusaha, momen mudik dan libur panjang Lebaran malah akan menguntungkan perekonomian nasional. Kenapa bisa begitu?

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menuturkan, selama masa liburan tersebut kegiatan perekonomian di beberapa provinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta malah menggeliat.

"Untuk beberapa provinsi (di Jawa) akan mendapatkan peningkatan aktivitas ekonomi dari sisi tempat tinggal, yaitu hotel dan tempat makan," ungkap Sri Minggu (25/6/2017).

Di samping itu, lanjut Sri, saat hari Idul Fitri, aktivitas ekonomi tidak stagnan, apalagi yang terkait bisnis konsumsi.

Transaksi keuangan para pekerja malah akan meningkat untuk membayar biaya-biaya konsumsi kuliner sehingga perputaran uang di masyarakat cukup besar.

Pendapat senada diutarakan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Menurut dia, banyak orang akan memanfaatkan libur Lebaran dengan jalan-jalan ke tempat wisata di daerah.

"Pulang ke rumah, jalan-jalan, ke tempat hiburan kan bayar. Beli makanan bayar dan beli buah-buahan, ekonomi jalan," ujar Kalla, Selasa (8/5/2018).

Tak hanya dari transaksi pemudik, perputaran uang dalam periode tersebut juga datang dari remitansi atau hasil pengiriman uang pekerja migran ke Tanah Air.

Seperti ditulis Kompas, Kamis (31/5/2018), PT Pos Indonesia memprediksi, sirkulasi uang dari remitansi jelang Lebaran 2018 meningkat 5-10 persen dari tahun lalu, yaitu Rp 3 triliun - Rp 4 triliun per bulan.

Banyak sektor bergairah

Geliat gairah ekonomi terlihat pula dari pengiriman makanan khas pempek dari Palembang, Sumatera Selatan.

PT Pos Indonesia Cabang Palembang mencatat pengiriman pempek jelang Idul Fitri selalu melonjak hingga tiga kali lipat.

Pada hari biasa, pengiriman pempek ke sejumlah daerah hanya sekitar 300 kilogram (kg) per hari.

Memasuki akhir Mei 2018 kiriman pempek meningkat hingga 600 kg per hari dan diprediksi melonjak menjadi 1 ton per hari menjelang sepekan sebelum Lebaran.

Itu baru dari sisi perdagangan, peningkatan aktivitas perekonomian juga bisa terlihat dari lonjakan volume penggunaan transportasi umum.

Untuk transportasi udara saja Kementerian Perhubungan sudah menerbitkan 181 penerbangan tambahan atau ekstra baik untuk rute dalam dan luar negeri.

Sementara itu, untuk Kereta Api, Public Relations PT KAI Agus Komarudin mengatakan, pada Lebaran tahun ini perjalanan 393 KA per hari, naik 4 persen ketimbang 2017, yakni 379 KA per hari. Adapun kapasitas tempat duduk 287.684 kursi per hari, naik 2,5 persen dibanding 2017.

Dengan segala hiruk pikuk aktivitas perkonomian itu, Bank Indonesia (BI) memroyeksi, perputaraan uang selama periode libur Lebaran ini sedikitnya mencapai Rp 188,2 triliun.

Angka ini, meningkat 15,3 persen dari periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 163,2 triliun.

Deputi Gubenur BI Rosmaya K Hadi mengatakan dari Rp 188,2 triliun, 22 persennya untuk kebutuhan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

BI sendiri menyiapkan 160 tempat resmi penukaran uang di wilayah tersebut dari total 1.000 tempat penukaran di Indonesia. (**H)


Sumber: KOMPAS.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar