Pengamat: Polisi yang Terpapar Terorisme Kurang dari 1 Persen Saja

  • Kamis, 31 Mei 2018 - 07:00:46 WIB | Di Baca : 860 Kali

SeRiau - Seorang anggota Polri di Jambi ditangkap karena diduga mulai terpapar paham dan ideologi terorisme. Menurut pengamat terorisme Harits Abu Ulya, sebenarnya kemungkinan adanya anggota Polri yang terpapar radikalisme memang ada, namun jumlahnya sangat sedikit.

"Dari data, polisi yang terpapar dengan paham teror itu sangat sedikit sekali, bahkan tidak ada 1 persen," ucap Harits saat dihubungi kumparan, Kamis (31/5).

"Kalau kita tarik batas dari sejak munculnya ISIS, maka kalangan polisi ada juga yang berafiliasi meski sangat kecil, hanya nol koma sekian persen," imbuhnya.

Loading...

Ia menyebut, masalah infeksi paham radikalisme sebenarnya bisa menjangkit siapapun. Tidak hanya masyarakat biasa saja, anggota kepolisian pun mungkin saja terkena paham radikalisme.

"Intinya, polisi tidak terkecuali, bisa saja menjadi obyek dan target untuk terpapar paham terorisme," lanjutnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Ia mengakui, kemungkinan ada anggotanya yang terkena paham radikalisme memang selalu ada.

"Ini bisa masuk ke mana saja ideologi ini. Jadi sama kayak narkoba lah, ke mana-mana. Bisa kena polisi, bisa kena pejabat, artis, mahasiswa, dosen, dan lain-lain," kata Tito di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/5).

Tito mengatakan, sebuah ideologi yang diajarkan secara diam-diam seperti ideologi daulah memang bisa saja ditemukan oleh siapa saja. Bila orang itu tidak siap atau tidak cukup memiliki pertahanan diri yang baik bisa saja ikut terbawa ideologi itu.

"Jadi sama, ideologi ini siapa pun yang membaca kemudian dia mungkin tidak siap, dia terkena ideologi itu, termasuk kepada polisi, bisa juga terkena," pungkasnya.

Sementara, pakar di bidang kriminologi dan kepolisian Adrianus Meliala menyebut jika ada anggota Polri yang terkena paham radikalisme, maka hal itu bukan merupakan salah organisasi kepolisiannya. Sebab bisa saja, paham itu masuk saat anggota Polri sedang tidak bertugas atau sedang menjalankan peran kemasyarakatan.

"Memang polisi diminta saat dia menjadi anggota masyarakat sekalipun tetap antenanya itu diaktifkan tetap waspadalah, tapi mempengaruhi lewat ideologi, mempengaruhi lewat keyakinan, maka justru pilar itulah yang mengubah dia," ujar Adrianus kepada kumparan, Kamis (31/5).

"Alih-alih dia waspada tapi malah dia dikuasai," imbuhnya. (**H)


Sumber: kumparanNEWS




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar