Tim Satgas Malaria Rohil Perkuat Kolaborasi Tanggulangi Kasus Malaria
SeRiau - Tim dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia turun ke Kabupaten Rokan Hilir untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh (Intra Action Review) terhadap penanganan kasus malaria yang saat ini terjadi.
Hingga kini penetapan status tanggap darurat malaria di Kabupaten Rokan Hilir sudah dikeluarkan sebanyak 11 kali. Kondisi ini memicu reaksi Kementerian Kesehatan hingga lembaga kesehatan masyarakat nasional terkemuka di Amerika Serikat yakni CDC untuk melakukan langkah strategis dalam penanggulangan malaria.
Pertemuan berlangsung di aula lantai 4 Kantor Bupati Rohil yang dihadiri Tim Satgas Malaria Rohil, bersama Kementerian Kesehatan, LSM Nasional CDC hingga pihak terkait. Mereka mengevaluasi penanganan malaria yang tengah berjalan serta menyusun langkah efektif dan efisien untuk menangani kasus malaria.
Tim Respon KLB dan Wabah di Pintu Masuk dan Wilayah Direktorat Surveylan dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Puhilan mengatakan, evaluasi yang dilakukan bukan lah bersifat pribadi akan tetapi untuk melihat sejauh mana penanganan yang telah dilakukan serta mencari langkah yang konkrit agar malaria dapat tertangani dengan cepat.
"Intra Action Review yang kita gelar hari ini sifatnya bukan melihat kinerja perorangan akan tetapi kita melihat bagaimana penanganan kasus malaria yang sudah dilakukan hingga sampai saat ini. Kita merumuskan langkah konkrit sekaligus rekomendasi jangka pendek dan panjang bagaimana kasus malaria dapat tertangani," katanya.
Sementara itu Kepala BPBD Rohil Syafnurizal menyebutkan, sedikitnya terdapat dua wilayah Rohil yang terletak di Pesisir yang saat ini mendominasi kasus malaria yakni Kecamatan Pasir Limau Kapas dan Kecamatan Sinaboi. Berbagai langkah strategis sudah dilakukan untuk menekan penyebaran kasus malaria.
"Kita bukan tidak bekerja, dalam dua tahun belakangan ini kami dari BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup dan PUTR sudah melakukan berbagai langkah dan penanggulangan khususnya di daerah yang paling dominan terjadi kasus malaria, namun saat ini kasusnya masih tinggi," sebutnya.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan serta berobat dalam masa pemulihan menjadi faktor utama untuk menekan kasus malaria.
"Selain kita berupaya menciptakan lingkungan yang bersih, perilaku masyarakat khususnya bagi mereka yang terkena malaria juga sangat disayangkan, ketika dikasi obat untuk sembuh, mereka tidak menuruti sesuai dengan yang dianjurkan, inilah yang perlu untuk kita berikan pemahaman agar wabah ini tidak menyebar dan bisa kita tekan," sebut Syafnurizal.
Dalam sosialisasi ini akan di buat semacam MOU bersama dalam penanganan kasus malaria," insyallah dengan dukungan bersama kita mengharapkan kasus malaria di Rokan Hilir bisa turun bahkan nol lagi," harapnya. (fds)




