Antara Ngebut dan Mogok: Potret Pengantar Makanan Bermotor di Kota Pekanbaru yang Tidak Pernah Tidur

  • by Redaksi
  • Selasa, 28 Oktober 2025 - 12:30:00 WIB

 

Penulis: H. Abdul Kudus Zaini,
Dosen Fakultas Teknik Sipil UIR

Setiap hari, ribuan pengantar makanan bermotor melaju di jalanan Pekanbaru, dari pagi hingga larut malam.

Mereka menjadi urat nadi ekonomi digital menghubungkan dapur warga dengan meja makan pelanggan.

Namun dibalik semangat kerja keras itu, tersimpan masalah yang kerap diabaikan seperti kendaraan 
mogok ditengah jalan.

Hasil observasi lapangan dan survei terhadap 120 pengantar makanan daring di Pekanbaru menunjukkan bahwa sebagian besar pengendara berusia muda antara 18 hingga 30 tahun dengan latar belakang pendidikan SMA.

Mereka rata-rata bekerja lebih dari 10 jam sehari dan menempuh jarak lebih dari 100 kilometer setiap harinya. Usia muda membawa semangat tinggi, tapi sering kali kurang memperhatikan perawatan preventif kendaraan.

Dari hasil analisis regresi sederhana, terdapat korelasi kuat antara jam kerja panjang dan frekuensi kendaraan mogok.

Pengantar yang bekerja lebih dari 
10 jam memiliki risiko dua kali lipat mengalami gangguan mesin dibanding mereka yang bekerja di bawah 8 jam.

Dalam teori Workload and Performance (Robbins, 2020), kelelahan kerja menurunkan kewaspadaan dan perhatian terhadap aset kerja termasuk kendaran motor.

Faktor lingkungan juga berperan besar. Pekanbaru dikenal dengan suhu siang yang bisa mencapai 34–36°C. Dalam kondisi ini, mesin motor bekerja lebih berat, pelumas cepat menguap, dan risiko overheat meningkat.

Kondisi jalan dibeberapa ruas seperti Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Tuanku Tambusai yang bergelombang pun menambah tekanan mekanis pada kendaraan.

Ditengah teknologi digital yang canggih, aplikasi, peta real time, sistem pembayaran non tunai, para pengantar makanan masih bergantung pada motor 
konvensional yang rentan rusak.

Sebagian besar kendaraan mereka adalah motor bekas dengan usia di atas lima tahun. Belum ada sistem inspeksi teknis berkala dari perusahaan aplikasi, padahal kendaraan adalah alat produksi 
utama.

Masalah kendaraan mogok bukan sekadar urusan pribadi pekerja, tetapi menyangkut keselamatan lalu lintas dan efisiensi kota. Motor yang mogok di tengah jalan dapat menimbulkan kemacetan mendadak dan risiko kecelakaan beruntun.

Pemerintah daerah dapat berperan dengan menyediakan posko keselamatan, mendorong audit kendaraan, dan mengintegrasikan data pengantar daring ke program keselamatan kota.

Para pengantar makanan adalah pejuang ekonomi modern. Mereka menjaga kenyamanan pelanggan di tengah cuaca ekstrem dan risiko jalanan.

Sudah sepantasnya mereka didukung dengan kebijakan yang berpihak seperti servis gratis berkala, edukasi keselamatan, dan perlindungan sosial.

Kita semua adalah penikmat jasa para pengantar makanan. Setiap kali pesanan tiba di depan rumah, ingatlah bahwa di balik itu ada tenaga muda yang berjuang dengan mesin yang terus dipaksa bekerja.

Maka sudah saatnya kota yang sibuk ini belajar berhenti sejenak, untuk memastikan bahwa yang bergerak bukan hanya ekonomi digital, tapi juga rasa kemanusiaan di baliknya.(***)