Seriau,- Sebanyak 470 siswa kelas XII SMAN 8 Pekanbaru dilepas dan dikembalikan ke orangtua setelah 3 tahun menuntaskan pendidikan di sekolah.
Pelepasan yang dilalukan usai upacara bendera, pada Senin (5/5) pagi ini diakhiri dengan salam salaman bersama antara siswa dengan guru, komite dan perwakilan orangtua siswa
Ketua Komite SMAN 8 Pekanbaru, Ir Delisis Hasanto mengatakan pelepasan ini merupakan simbol diterimanya kembali para siswa oleh orangtua setelah mereka dididik di sekolah. Perpisahan ini, rutin digelar dengan sederhana sejak 2019 lalu.
Acara perpisahan sekolah, pihaknya mengaku linier dengan kebijakan Gubernur Riau, Abdul Wahid yang telah mengeluarkan surat edaran (SE). Dimana, perpisahan sekolah dapat dilakukan secara sederhana di sekolah dan tak membebani orangtua peserta didik.
" Keluarnya kebijakan ini menuai pro dan kontra dari siswa serta orangtua. Ada yang merasa sedih maupun senang dengan munculnya surat edaran itu," kata Delisis.
Komite sekolah, kata Delisis, mengapresiasi keluarnya SE itu meski masih banyak pihak yang kurang memahami isinya.
SE itu bukan melarang acara perpisahan. Tapi, jika ingin digelar, perpisahan harus dibuat di sekolah dengan acara sederhana dan tak membebani orangtua siswa
Namun sayangnya, banyak yang takut menggelar acara perpisahan akibat SE itu. Sebenarnya acara perpisahan punya nilai yang positif. Karena ini menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan kemampuannya di berbagai bidang.
" Saat ini seakan tidak ada ruang bagi siswa untuk memperlihatkan kemampuannya. Padahal itu momen yang sangat berharga bagi peserta didik. Saya sebagai orangtua murid prihatin dengan situasi ini," ujar Delisis
Delisis menambahkan hampir 90 persen orangtua siswa tidak mempermasalahkan acara perpisahan digelar. Namun, yang kerap ditonjolkan ke publik justru 5 hingga 10 persen orangtua siswa yang keberatan dengan acara perpisahan akibat biaya.
Padahal, biaya ini sebenarnya sudah dicari solusinya secara bersama.
Bahkan panitia sudah berkomitmen membantu jika ada orangtua yang tak sanggup membayar uang perpisahan dengan sistem subsidi silang. Apalagi, anak-anak sudah menabung sejak tahun lalu demi menggelar acara ini.
" Saya juga tidak setuju jika dunia pendidikan selalu dibingkai dengan isu kemiskinan. Karena jika demikian, maka penyelenggaraan kegiatan di sekolah dapat selalu terhambat dengan alasan kemiskinan. Padahal, masalah itu sebenarnya dapat dipecahkan dengan meningkatkan partisipasi orangtua dan masyarakat," terang Delisis
Delisis menyebut, sejumlah siswa telah menyampaikan kekecewaannya. Dirinya, menganggap pengalaman ini akan selalu diingat oleh siswa. Setelah acara pelepasan, pihak sekolah, apapun alasannya, tidak lagi punya urusan jika ada sekelompok siswa menggelar acara perpisahan ketika mereka tamat." Saya tekankan, kalau ada kegiatan, itu sudah urusan orangtua," ujar Delisis
Sementara Plt Kepala SMAN 8 Pekanbaru, Sulismayati M.Pd menyampaikan, tiga tahun yang lalu, orangtua telah mempercayakan anaknya dididik di SMAN 8. Maka hari ini, dibuatlah acara pelepasan sebagai simbol bahwa guru telah selesai mendidik para siswa. Sekaligus menjadi harapan agar siswa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.
Dirinya mengatakan 470 siswa yang lulus ini merupakan angkatan pertama Kurikulum Merdeka.
" Setelah perpisahan ini, siswa didorong menyelesaikan segala dokumen yang diperlukan. Baik rapor, ijazah dan sebagainya sebagai bekal mereka ke depan," katanya.
Ditambahkan Sulismayati, pengumuman kelulusan juga akan dilakukan hari ini paling lambat disampaikan pihak sekolah pukul 20.00 WIB." Karena batas waktunya sampai malam, acara pelepasan akhirnya kami lakukan pagi ini. Karena kan tidak mungkin juga dilakukan di malam hari," ujarnya (zal)