Semarak Bulan Merdeka Belajar Berakhir, Siak Raih Stan Terbaik dan Meranti Juara 1 Potret Cerita Kurikulum Merdeka


 

Seriau,- Rangkaian Semarak Bulan Merdeka Belajar di Provinsi ditutup oleh Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Raja Yoserizal Zen di aula Museum Sang Nila Utama, Selasa (4/6).

Pada acara penutupan juga diberikan apresiasi terhadap stan terbaik dalam pameran pendidikan yang dilaksanakan dalam tiga hari terakhir.  

Kepala BPMP Riau, Dr Nilam Suri mengatakan stan terbaik pertama diraih oleh stan Siak, terbaik kedua Bengkalis dan ketiga adalah Indragiri Hilir (Inhil).

Kemudian, ada juga penghargaan terkait Potret Cerita Kurikulum Merdeka. Dimana yang meraih penghargaan pertama adalah Kabupaten Kepulauan Meranti. Terbaik kedua diraih Inhil dan terbaik ketiga diraih Kampar." Penghargaan diberikan oleh BPMP, Balai Guru Penggerak dan Balai Bahasa" kata Dr Nilam

Nilam Suri juga mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam Semarak Bulan Merdeka Belajar tahun 2024. Dia menilai, kolaborasi oleh banyak pihak diperlukan dalam pengembangan program Merdeka Belajar di Riau.

“ Kami berterima kasih kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Riau, Disdik 12 kabupaten/kota serta mitra pembangunan seperti Tanoto Foundation, Dinas Kesehatan, Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) dan Dinas Kebudayaan. Semua ini adalah ekosistem pendidikan,” katanya

Menurut dia, BPMP dan UPT lainnya tidak bisa sendiri menyelesaikan masalah pendidikan di Riau. Seluruh pihak dalam ekosistem itu juga perlu menguatkan pendidikan di Riau. 
Untuk diketahui, rangkaian acara dimulai Minggu (2/6) dengan kegiatan jalan sehat. Kemudian ada juga pembagian sarapan sehat bersama ratusan pelajarserta senam sekolah sehat. Ada juga Gelar Wicara Permainan Tradisional, pentas seni, hingga Permainan Rakyat.

Sementara, Pemprov mengapresiasi kegiatan Semarak Bulan Merdeka Belajar ini. Dia menilai, dalam beberapa hari ini terlihat sangat luar biasa antusiasme para pelajar mengikuti kegiatan. Dia menilai, ekosistem pendidikan ini sejalan dengan ekosistem kebudayaan.

“ Ini juga memberi ruang kepada anak sekolah untuk berkegiatan dan berkebudayaan. Misalnya, penggunaan permainan egrang yang membuka ruang ekosistem kebudayaan,” tutur Yoserizal.

Dia menilai, upaya membangunkan kembali permainan tradisional di Riau sudah sangat masif. Buktinya, ketika digelar kompetisi permainan tradisional, semua daerah di Riau menurunkan kontingennya. 
Yoserizal juga menganggap masifnya teknologi digital bukan jadi tantangan permainan tradisional. Justru teknologi digital bisa jadi ruang dalam memperkenalkan dan menjalankan permainan tradisional. (zal)