ICDX bidik potensi pasar fisik CPO di Sumatera Utara


 

SeRiau - Pekanbaru - Melihat potensi yang cukup besar terhadap perdagangan CPO di Indonesia. Untuk itu Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) akan menjadikan perdagangan CPO masuk kedalam Bursa CPO.

Apalagi selama ini pelaku CPO dan/atau kelapa sawit di Indonesia sudah terbiasa dengan transaksi Business to Business (B2B) yang berbeda dengan di Bursa.

Direktur Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Yugieandy T Saputra mengatakan, untuk menjadikan Bursa CPO aktif ke depan, perlu proses dan waktu.

"Kami optimis, ke depan perdagangan CPO di Bursa akan menjadi pilihan bagi pelaku perdagangan CPO di Indonesia. ICDX selaku bursa, akan menjalankan sebaik-baiknya dengan tata Kelola yang baik, transparan dan akuntabe," ujar Direktur Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Yugieandy T Saputra melalui rilisnya kepada wartawan, Senin (20/5).

Untuk langkah awal Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) telah menggelar sosialisasi Bursa CPO di Medan, Sumatera Utara.

Ada dua acara digelar, yaitu Kupas Tuntas Bursa CPO di Indonesia bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan Sosialisasi Bursa CPO bersamaan dengan Rapat Anggota Tahunan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) yang digelar pekan lalu.  

Direktur Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Yugieandy T Saputra menyampaikan, kegiatan itu merupakan bagian dari sosialisasi yang dijalankan ICDX terkait pelaksanaan Bursa CPO di Indonesia.

"Dilaksanakan kegiatan di Medan, karena kami melihat bahwa wilayah Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam pengembangan Bursa CPO. Hal itu bisa dilihat dari jumlah pengusaha Perkebunan kelapa sawit di Medan, serta luasan wilayah perkebunan yang ada," ucapnya..

Dalam sosialisasi itu tambah Yugieandy, pihaknya menyampaikan tentang mekanisme perdagangan CPO di bursa, dan yang lebih penting adalah manfaat yang bisa diterima pelaku yang melakukan transaksi CPO di bursa.

"Harapannya, pelaku CPO yang ada di wilayah Sumatera Utara ini ke depan dapat memanfaatkan mekanisme perdagangan pasar fisik CPO," ungkapnya.

Kegiatan sosialisasi seperti itu jelas Yugiendy ke depan akan terus dijalankan secara berkesinambungan ke berbagai daerah yang menjadi sentra perkebunan kelapa sawit, yang tentunya juga akan melibatkan regulator serta pemangku kepentingan lainnya di industri CPO.

Sumatera Utara sendiri merupakan wilayah yang memiliki Perkebunan kelapa sawit yang cukup luas. Melansir data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara tahun 2022, luas Perkebunan kelapa sawit di provinsi ini mencapai 1.379.442 Hektar.  Sedangkan dari sisi pelaku, dikutip dari Direktori Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Provinsi Sumatera Utara, disebutkan pada tahun 2022 di provinsi Sumatera Utara terdapat 327 Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit.

Implementasi Bursa CPO di di Indonesia telah mulai berjalan pada bulan Oktober 2023, dimana Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi mengeluarkan penunjukan kepada ICDX sebagai penyelenggara pasar fisik CPO melalui Bursa. Dengan mekanisme ini, antara pelaku baik itu pembeli maupun penjual akan bertemu dalam platform perdagangan di bursa, sehingga terjadi pembentukan harga (price discovery) yang kemudian akan terjadi harga acuan (price reference). Harapannya, harga yang tercipta di bursa akan menjadi rujukan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani sawit.

Terkait perdagangan pasar fisik Bursa CPO ini, data dari ICDX menyebutkan sampai dengan Kuartal I tahun 2024 transaksi yang terjadi sebanyak 3,962 lot, setara dengan 19.810 ton CPO dengan perhitungan 1 lot = 5 ton. Sedangkan dari sisi Jumlah peserta, sampai dengan 25 April 2024 tercatat sebanyak 48 peserta. (***/rls)