MENU TUTUP

Punya Rp352 Triliun, Miliarder Terkaya Jepang Berambisi Jadikan Uniqlo Terbesar di Dunia

Kamis, 11 April 2019 | 13:09:18 WIB | Di Baca : 1543 Kali
Punya Rp352 Triliun, Miliarder Terkaya Jepang Berambisi Jadikan Uniqlo Terbesar di Dunia

 

 

SeRiau - Forbes telah merilis daftar 50 orang terkaya di Jepang tahun ini. Tadashi Yanai juaranya dengan melangkahi kekayaan bos Softbank Masayoshi Son.

Tadashi Yanai menjadi orang terkaya di Jepang dengan kekayaan mencapai USD24,9 miliar atau setara Rp352,4 triliun (kurs Rp14.155 per USD). Bos Uniqlo ini mencatatkan penambahan kekayaan terbesar tahun ini. Hartanya bertambah sebanyak USD5,6 miliar atau Rp79,2 triliun.

Sementara, Son menduduki peringkat kedua daftar orang terkaya di Jepang dengan kekayaan USD24 miliar atau setara Rp339,7 triliun. Demikian seperti dilansir Forbes, Kamis (11/4/2019).

Yanai kini berusia 70 tahun dan memiliki dua orang anak. Yanai membangun dan menjalankan kerajaan pakaian ritel terdaftar yang dinamai Fast Retailing, induk dari Uniqlo. Dia dan keluarganya memiliki 44% saham.

Fast Retailing juga memiliki dua ritel lainnya yakni J Brand dan Theory. Yanai mengandalkan bisnis di China dan Thailand untuk kawasan Asia dalam memasarkan Uniqlo.

Yanai memang mengesampingkan tujuannya pada 2012 untuk membuka 1.000 toko Uniqlo di AS. Tapi Uniqlo hanya membuka 47 toko di AS.

Yanai ingin perusahaannya menjadi peritel pakaian terbesar di dunia, yang berarti harus melampaui H&M dan Inditex (induk dari Zara).

 

 

 

 


Sumber Okezone

 


Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

M. Maliki Apresiasi Kepemimpinan Gibran: Pemimpin Muda yang Mau Turun Langsung ke Lapangan

2

Tokoh Pemuda Rohil: Kunjungan Wapres Harus Membawa Perubahan dan Perhatian Lebih Besar untuk Daerah

3

126 Murid SMKN 1 Tambang Prakrin di Perusahaan, Kepsek: Siap Bersaing di Dunia Kerja

4

O2SN Tingkat Provinsi Riau, Dika Murid SMAN 1 Kateman Siap Berikan yang Terbaik.

5

FIKOM UMRI Gelar International Guest Lecturer, 200 Mahasiswa Dalami Strategi Komunikasi Krisis di Era Digital