MENU TUTUP

Impor Perangkat Jadi Masalah Penerapan IoT di Indonesia

Selasa, 27 November 2018 | 20:15:00 WIB | Di Baca : 1733 Kali
Impor Perangkat Jadi Masalah Penerapan IoT di Indonesia

SeRiau - Internet of Things di Indonesia akan berada untuk pasar Business to Business atau B2B, dengan kata lain, belum akan muncul untuk konsumen.

"Kebutuhannya belum terbentuk, ekosistemnya belum ada. Makanya lebih cocok masuk ke industri karena semuanya lagi pengin migrasi ke digital 4.0 ini," kata General Manager IoT Smart Connectivity Telkomsel, Alfian Manullang, di Jakarta, Selasa, 27 November 2018.

"Di industri, pihak Telkomsel mengerjakan untuk air, gas, dan listrik. Kerja sama dengan PLN sudah berjalan," ujar Alfian, menambahkan.

Menyoal regulasi, salah satu yang diminta Alfian untuk difokuskan adalah perangkat. Soal ini, diharapkan Indonesia tak akan menggantungkan diri dengan negara lain.

Salah satu jalannya dengan menyesuaikan pajak agar masyarakat bisa memproduksi komponen perangkat IoT sendiri. Karena menurutnya, komponen impor akan menggerus devisa negara lagi.

"Pada saat diproduksi, dikenakan PPh itu kan menjadi value added. Kalau nanti bisa diekspor, itu jadi bisa value added lagi, jadi bagaimana bisa industri dalam negeri itu IoT bisa tumbuh lagi sehingga enggak bergantung pada China," kata dia.

Selain itu, impor juga turut andil dalam kestabilan penjualan industri asing. Menurutnya, tanpa regulasi, pemain asing akan bisa menjual layanan konektivitas lebih murah dan mudah. Itulah penyebab mengapa industri dalam negeri tidak bisa tumbuh.

"Misalnya implementasi smart lampu di jakarta itu 150 ribu lampu pakai kartu luar negeri semua. Pada saat nanti enggak deal harga komersialnya, dan kartunya itu sudah terlanjur banyak, dan sudah harus ganti kalau ke lokal operator itu operasionalnya akan sangat parah," ujarnya.

Untuk bisa menumbuhkan ekosistem IoT di Indonesia, Alfian menyatakan harus dimulai dari pendidikan sejak dini. Dia mencontohkan, di China IoT itu akan diajarkan sejak sekolah. Jika Indonesia tidak bisa mengikuti, akan semakin tertinggal. Bisa hanya menjadi konsumer saja. (**H)


Sumber: VIVA


Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

M. Maliki Apresiasi Kepemimpinan Gibran: Pemimpin Muda yang Mau Turun Langsung ke Lapangan

2

Tokoh Pemuda Rohil: Kunjungan Wapres Harus Membawa Perubahan dan Perhatian Lebih Besar untuk Daerah

3

126 Murid SMKN 1 Tambang Prakrin di Perusahaan, Kepsek: Siap Bersaing di Dunia Kerja

4

O2SN Tingkat Provinsi Riau, Dika Murid SMAN 1 Kateman Siap Berikan yang Terbaik.

5

FIKOM UMRI Gelar International Guest Lecturer, 200 Mahasiswa Dalami Strategi Komunikasi Krisis di Era Digital