MENU TUTUP

Utang Naik Terus Sampai Rp 3.866 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Kamis, 19 Oktober 2017 | 09:56:46 WIB | Di Baca : 1736 Kali
Utang Naik Terus Sampai Rp 3.866 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Jakarta, SeRiau- Utang pemerintah per akhir September 2017 mencapai Rp 3.866,45 triliun atau dalam sebulan naik Rp 40,66 triliun dibandingkan jumlah utang di Agustus 2017 yang sebesar Rp 3.825,79 triliun.  

Jika dilihat dari awal masa kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) maka kenaikan total utang pemerintah mencapai Rp 1.261,52 triliun, dari 2014 yang sebesar Rp 2.604,93 ke posisi saat ini Rp 3.866,45 triliun.

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, kenaikan jumlah utang pemerintah terjadi karena adanya defisit anggaran. Tahun ini defisit diproyeksi 2,92% terhadap PDB. "Kalau defisit ya memang harus ada kenaikan," kata Sri Mulyani di Komplek Istana, Jakarta, Kamis (19/10/2017). Diketahui, Per akhir September 2017, total utang pemerintah pusat tercatat mencapai Rp 3.866,45 triliun.

Dalam sebulan, utang ini naik Rp 40,66 triliun, dibandingkan jumlah di Agustus 2017 yang sebesar Rp Rp 3.825,79 triliun. Dalam denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah pusat di September 2017 adalah US$ 286,57 miliar, naik dari posisi akhir Agustus 2017 yang sebesar US$ 286,55 miliar. Sebagian besar utang pemerintah dalam bentuk surat utang atau Surat Berharga Negara (SBN). Sampai September 2017, nilai penerbitan SBN mencapai Rp 3.128,46 triliun, naik dari akhir Agustus 2017 yang sebesar Rp 3.087,95 triliun.

Sementara itu, pinjaman (baik bilateral maupun multilateral) tercatat Rp 737,99 triliun, naik tipis dari Agustus 2017 sebesar Rp 737,85 triliun. Berikut perkembangan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak tahun 2000: 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%) 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%) 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%) 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%) 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%) 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%) 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%) 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%) 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%) 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%) 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%) 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%) 2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%) 2013: Rp 2.371,39 triliun (28,7%) 2014: Rp 2.604,93 triliun (25,9%) 2015: Rp 3.098,64 triliun (26,8%) 2016: Rp 3.466,96 triliun (27,9%) (Sumber : Detiknews.com)


Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

M. Maliki Apresiasi Kepemimpinan Gibran: Pemimpin Muda yang Mau Turun Langsung ke Lapangan

2

Tokoh Pemuda Rohil: Kunjungan Wapres Harus Membawa Perubahan dan Perhatian Lebih Besar untuk Daerah

3

126 Murid SMKN 1 Tambang Prakrin di Perusahaan, Kepsek: Siap Bersaing di Dunia Kerja

4

O2SN Tingkat Provinsi Riau, Dika Murid SMAN 1 Kateman Siap Berikan yang Terbaik.

5

FIKOM UMRI Gelar International Guest Lecturer, 200 Mahasiswa Dalami Strategi Komunikasi Krisis di Era Digital