PBB Telusuri Limbah Berbahaya Bekas Ledakan di Beirut

  • Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:08:45 WIB | Di Baca : 1277 Kali

SeRiau - PBB tengah berupaya menelusuri kandungan limbah berbahaya yang berada di lokasi ledakan Beirut, Lebanon. Ledakan di pelabuhan itu diketahui berasal dari ribuan ton amonium nitrat.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (15/8/2020), pihak PBB tengah menjalankan program yang disebut dapat memberikan informasi seberapa besar tercemarnya area di sekitar pelabuha Beirut akibat ledakan itu. Insiden pada 4 Agustus lalu itu juga diduga telah mencemari lautan Mediterania.

"Dalam beberapa detik, Beirut ditutupi lapisan-lapisan puing, kami sedang menilai jenis-jenis puing, batu bata, baja, kaca, limbah berbahaya, limbah medis, dan limbah elektronik juga perlu ditangani." kata Penasihat Krisis PBB di Lebanon, Rekha Das.

Loading...

Rekha menyebut pihaknya juga tengah memilah bahan apa yang berbahaya dan yang tidak berbahaya. Selain itu, dia menyebut pihaknya juga tengah mencari cara bagaimana untuk mendaur ulang atau bahkan membuang limba itu dengan aman.

"Kita harus mencari tahu apa yang berbahaya dan apa yang tidak. Apa yang bisa didaur ulang dan apa yang tidak," ucapnya.

"Dan jika tidak dapat didaur ulang, di mana dapat dibuang dengan aman? Lebanon sudah mengalami krisis limbah padat yang besar sebelum ledakan," sambungnya.

Rekha juga menyebut adanya kemungkinan lautan Mediterania tercemar akibat ledakan tersebut. Karena itu, pihaknya masih bekerja menganalisa kondisi pasca bencana ledakan tersebut.

"Polusi dan dampak lingkungan yang diakibatkan ledakan tersebut di Laut Mediterania tidak diketahui, kami tahu bahwa ada limbah beracun di luar sana, dan banyak plastik, kami saat ini tengah bekerja sama dengan ahli Uni Eropa terkait limbah beracun itu," sebutnya.

Seperti diketahui, ledakan di Pelabuhan Beirut, Lebanon terjadi karena ribuan ton amonium nitra yang terbakar di lokasi. Akibat ledakan itu, 178 orang dinyatakan tewas, 30 orang masih hilang dan 6.500 orang lainnya luka-luka. (**H)


Sumber: detikNews




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar