Dampak Virus Corona, Indonesia Berpotensi Kehilangan Devisa Rp 40,7 Triliun

  • Rabu, 12 Februari 2020 - 20:46:08 WIB | Di Baca : 140 Kali

SeRiau - Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, dampaknya virus corona terhadap arus lintas orang menimbulkan potensi kehilangan nilai devisa terhadap suatu negara. Termasuk Indonesia yang mulai terasa dampak kerugian karena virus corona yang berasal dari Wuhan, China.

China merupakan wisatawan terbanyak kedua yang berkunjung ke Indonesia. Dari 16,1 juta wisman pada tahun 2019 yang berkunjung ke Indonesia, ada 2,07 juta wisman berasal dari China.

Dari perhitungannya, dalam setahun dampak virus corona tersebut akan mengurangi nilai devisa Indonesia sebesar Rp 40,7 triliun.

Loading...

"Jadi, kita nggak nyangka kayak di Bali itu banyak paket hemat. Ternyata spending average-nya lebih tinggi per kunjungan dibandingkan negara lain. Kalau kita kalikan dengan 2,07 juta, devisa yang hilang dari turis RRT dalam satu tahun 2,87 miliar dollar AS atau setara Rp 40,7 triliun," sebut dia di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Pasalnya, wisman asal China di Indonesia saja, lanjut Susi, kerap menghabiskan dana sebesar 1.385 dollar AS per kunjungan. Wajar, jika China masih menjadi harapan Indonesia untuk meningkatkan nilai devisa dari sektor pariwisata.

"Kalau dari sisi lalu lintas orang RRT ini asal wisman terbesar kedua. Dari 16,1 juta wisman, RRT itu 2,07 juta dengan spending average-nya lebih tinggi. Spending per kunjungan 1.385 dollar AS, average lain di luar Tiongkok itu 1.280an," katanya.

Namun, masalahnya begitu cepat penyebaran virus corona yang mulai merambah ke-28 negara, tidak hanya berdampak negatif terhadap turunnya jumlah wisman namun industri penerbangan juga ikut terkena imbasnya.

"Seat yang utilitasnya tidak terisi atau katakan yang lost di sana itu kira-kira 2,1 juta seat dalam satu season. Kalau kita hitung dalam Tiongkok saja dan banyak sekali catatan dari Angkasa Pura II kehilangan beberapa bandara, termasuk Angkasa Pura I," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali mengakui adanya penurunan wisatawan China di Bali akibat mewabahnya virus corona. Penurunan wisman tersebut berdampak pada bisnis hotel, restoran, dan atraksi di Bali.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan, penurunan wisman di Bali sangat signifikan. Biasanya, sekitar 100.000 wisman China atau 3.000 - 3.500 per hari bertandang ke Bali saat libur panjang Tahun Baru Imlek.

Namun dalam 2 hari terakhir, hanya sekitar 460 wisman China yang berkunjung ke Bali. Cok Ace bilang, penurunan wisman bisa lebih dalam karena saat ini pemerintah telah menutup akses penerbangan dari/ke China sejak Rabu (5/2/2020) pukul 00.00 WIB.

"Beberapa hari terakhir ini menurun drastis bahkan yang tiga hari yang lalu itu sudah hanya 1.200 orang. Dua hari yang lalu hanya 460. Sudah turun," kata pria yang kerap disapa Cok Ace ini. (**H)


Sumber: KOMPAS.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar