BI Naikkan Rasio Kredit Perbankan Juli Mendatang

  • Jumat, 22 Maret 2019 - 00:50:47 WIB | Di Baca : 196 Kali

SeRiau - Bank Indonesia (BI) akan mengerek batas Rasio Intermediasi Perbankan (RIM) dari saat ini yang hanya 80 persen hingga 92 persen menjadi 84 hingga 94 persen. Kebijakan ini dimaksudkan agar perbankan semakin terpacu untuk menyalurkan kredit ke masyarakat.

Sekadar informasi, RIM adalah perluasan dari rasio pinjaman terhadap pendanaan, atau kerap disebut Loan to Funding Ratio (LFR). Jika rasio LFR dihitung dari kredit dibagi pendanaan termasuk surat berharga, maka RIM dihitung dari kredit dan surat berharga yang dibeli dibagi pendanaan ditambah surat berharga.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan semakin tinggi batas RIM, maka bank diperkenankan untuk menambah penyaluran kredit. Kebijakan ini sedianya akan berlaku 1 Juli 2019 mendatang.

Loading...

"Menaikkan RIM ini mendorong perbankan untuk menyalurkan pembiayaan dunia usaha. Dengan batas atas naik dari 92 persen ke 94 persen, maka bagi bank yang sudah punya RIM di angka 92 akan punya excess likuiditas, sehingga mereka punya ruang untuk salurkan kredit lagi," jelas Perry, Kamis (21/3).

Selain itu, ia yakin kebijakan ini akan efektif karena bank akan sangat terbantu dalam menyalurkan kredit. Utamanya, bagi bank yang memiliki RIM di bawah 84 persen. 

Pasalnya, bank yang masuk kategori itu perlu memilih, apakah lebih baik menaikkan kredit untuk mencapai RIM atau menyetor Giro Wajib Minimum (GWM). Kebijakan ini ditempuh agar pertumbuhan kredit bisa mencapai target akhir tahun nanti, yakni di kisaran 10 persen hingga 12 persen.

Meski memang, pada Januari kemarin, BI sudah mencatat pertumbuhan kredit sebesar 12 persen secara tahunan atau membaik dibanding bulan sebelumnya 11,8 persen.

Meski terus memacu kredit, BI juga akan melakukan kebijakan untuk menopang likuiditas. Apalagi, meski kredit tumbuh dua digit, nyatanya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya 6,4 persen di Januari atau melambat jika dibandingkan Desember yang masih bisa 6,5 persen.

Untuk itu, BI akan memperkenalkan fasilitas term repo yang lebih terjadwal dan diperbanyak. Sehingga, bagi perbankan yang menggenggam Surat Berharga Negara (SBN) bisa melakukan transaksi repo dengan frekuensi lebih sering ke BI demi menambah likuiditas.

Adapun, transaksi repo adalah penjualan bersyarat surat berharga dari bank kepada BI dengan kewajiban pembelian kembali sesuai harga dan jangka waktu yang disepakati.

"Jadi dengan cara ini, BI bisa terus injeksi likuditas. Kemarin Desember, kami sudah injeksi Rp199 triliun, Januari sebesar Rp24 triliun, Februari sebesar Rp76 triliun, dan Maret diperkirakan sebanyak Rp100 triliun," tutur dia.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto mengatakan saat ini terdapat 21 bank dengan RIM di bawah 80 persen yang diharapkan bisa meningkatkan penyaluran kreditnya agar nilai RIM-nya minimal bisa mencapai 84 persen. Jika 21 bank ini menaikkan RIM-nya ke angka 84 persen, ia memprediksi akan ada tambahan pertumbuhan kredit sebesar Rp36,2 triliun sepanjang tahun ini.

"Kami juga mencatat ada 37 bank yang memiliki RIM 80 persen hingga 92 persen yang diharapkan bisa ikut bertumbuh. Akibatnya, pertumbuhan kredit pada 2019 ini bisa mendekati target batas atas seperti yang diinginkan," pungkas Erwin. (**H)


Sumber: CNN Indonesia-Australia!




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar