Darmin Sebut Relasi RI-Uni Eropa Terancam Diskriminasi Sawit

  • Rabu, 20 Maret 2019 - 18:58:19 WIB | Di Baca : 98 Kali

SeRiau - Pemerintah khawatir rancangan kebijakan diskriminasi terhadap produk sawit akan berdampak pada hubungan bilateral jangka panjang antara Indonesia dengan Uni Eropa (UE).

Rancangan kebijakan yang bertajuk Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Directive II (RED II) itu juga dapat menunda penyelesaian pembahasan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan UE. 

Sebelumnya, kebijakan Red II telah diajukan Komisi Eropa kepada Parlemen UE pada 13 Maret 2019 lalu. Parlemen Eropa masih memiliki waktu untuk meninjau rancangan tersebut dalam waktu sekitar dua bulan sejak diterbitkan. Namun, Darmin khawatir persetujuan Parlemen bisa lebih cepat.

Loading...

"Kalau perlakuan tidak adil berlanjut itu bisa sampai mempengaruhi hubungan baik antara Uni Eropa dengan Indonesia, Malaysia dan lain-lain," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam pertemuan terkait Diskriminasi Uni Eropa terhadap produk sawit di kantor Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta, Rabu (20/3).

Pernyataan Darmin disampaikan di hadapan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Guerin dan sejumlah perwakilan perusahan asal Eropa di Indonesia.

Darmin mengingatkan kelapa sawit merupakan komoditas nomor satu bagi Indonesia. Tahun lalu, ekspor kelapa sawit mencapai US$17,89 miliar pada 2018 dan berkontribusi sekitar 3,5 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). 

Selain itu, industri kelapa sawit juga menyerap 19,5 juta orang pekerja baik langsung maupun tidak langsung, termasuk di dalamnya 4 juta petani kecil. Kemudian, industri kelapa sawit juga berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan yang sejalan dengan pencapaian Pilar I Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). 

Maka itu, pemerintah akan melawan tindakan diskrimasi yang dilatarbelakangi tindakan proteksionisme yang dilakukan Eropa meski dibungkus dengan alasan ilmiah.

Darmin menyebutkan saat ini Eropa merupakan produsen minyak nabati yang bersumber dari rape seed, bunga matahari, dan kedelai. Tak ayal, Eropa merasa terancam dengan produk kelapa sawit yang memiliki produktivitas per hektar lebih tinggi 6 hingga 12 kali lipat dibandingkan sumber nabati lain. 

"Kami pasti akan mengambil semua jalan yang bisa diambil untuk melawan (diskriminasi)," ujarnya. 

Saat ini, ASEAN telah menunda kemitraan strategis dengan Eropa. Selain itu, Indonesia juga tengah mengkaji hubungan bilateral dengan negara yang mendukung tindakan diskriminatif yang diajukan Komisi Eropa. 

Selanjutnya, Indonesia akan terus berkolaborasi dengan negara produsen kelapa sawit lain yang tergabung dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) maupun kerangka ASEAN. Kolaborasi itu tak hanya untuk mendorong praktik sawit berkelanjutan tetapi juga untuk merumuskan posisi yang sama untuk melawan tindakan diskriminasi Uni Eropa. (**H)


Sumber: CNN Indonesia




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar