PDIP Tanggapi PSI: Menyerang Sesama Koalisi Jokowi Sungguh Tidak Etis

  • Kamis, 14 Maret 2019 - 07:03:47 WIB | Di Baca : 58 Kali

SeRiau - Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie menyindir partai nasionalis yang dianggapnya menjadi pendukung terbesar Perda Syariah. Grace secara gamblang menyebut PDIP dan Golkar aktif dalam perancangan dan pengesahan Perda Syariah.

Sekretaris Departemen Pemerintahan DPP PDIP, Hanjaya Setiawan, menyesalkan serangan yang dilontarkan Grace. Menurutnya, sebagai ketua umum partai, Grace bisa lebih bijaksana dan cerdas dalam berkomentar. 

"Menyerang sesama partai koalisi pendukung capres Jokowi (Joko Widodo) sungguh tidak elok dan tidak etis," kata Hanjaya saat dihubungi kumparan, Rabu (13/3).

Loading...

Hanjaya menilai soliditas dibutuhkan antar partai pendukung dan pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin. Mengingat, PSI, PDIP, Golkar, dan enam partai lainnya, yakni PPP, PKB, NasDem, Perindo, PKPI, dan Hanura, merupakan bagian dari partai pendukung Jokowi-Ma'ruf.

"Bagi PDIP, kemenangan Jokowi adalah prioritas, serangan dari dalam (partai koalisi) dapat dikategorikan sebagai pengkhianatan," katanya.

Hanjaya menganggap PSI selama ini selalu diberi kesempatan oleh Jokowi untuk bersuara. Namun sebaliknya, kata dia, baliho petinggi-petinggi PSI justru tidak ada yang memasang atau mengampanyekan Jokowi-Ma'ruf.

Menurutnya, apa yang dilakukan Grace adalah sikap kalap yang menempuh jalan pintas dengan memainkan politik pencitraan, menyelamatkan diri sendiri demi mendongkrak elektabilitas PSI.

"Manakala Pemilu sudah dekat, ternyata elektabilitas PSI (berdasarkan beberapa survei) masih jeblok. Dana dari pengusaha luar biasa besar, terlihat dari iklan di televisi maupun media luar ruang yang masif, (tetapi) tidak dapat mendongkrak elektabilitas PSI. PSI masih belum beranjak dari partai nol koma," ungkap Hanjaya.

Mestinya, lanjut Hanjaya, sebagai sesama partai nasionalis, PSI dapat berjuang bersama-sama mewujudkan Indonesia yang plural dan toleran. Hanjaya menganggap Grace memainkan sesuatu yang tabu dalam lanskap perpolitikan Indonesia. "Kesombongan akan membuat tersungkur pada akhirnya," kata Hanjaya.

Dia pun meminta agar Grace meminta maaf secara terbuka agar agenda pemenangan Jokowi tidak terganggu. Mengingat, masa kampanye Pilpres 2019 tersisa 30 hari.

Serangan ini bermula ketika Grace berpidato di hadapan ribuan kadernya di Medan, Senin (11/3). Grace mempertanyakan sikap Golkar dan PDIP yang terlibat aktif dalam pengesahan 443 Perda Syariah di Indonesia. Grace memastikan pernyataannya ini hanya merujuk pada hasil penelitian yang ditulis Michael Buehler, Guru Besar Ilmu Politik Nothern Illinois University. 

Dalam bukunya, "The Politics of Shari’a Law: Islamist Activist and the State in Democratizing Indonesia", Buehler menyebutkan, 443 Peraturan Daerah Syariah yang diadopsi dalam kurun 1998 dan 2013, diterapkan di sejumlah provinsi, yakni Jawa Barat (103), Sumatera Barat (54), Sulawesi Selatan (47), Kalimantan Selatan (38), Jawa Timur (32) dan Aceh (25). Buehler juga mencatat bahwa bukan partai islamis yang merancang aturan ini, melainkan partai nasionalis seperti PDIP dan Golkar.

"Bagaimana mungkin disebut partai nasionalis, kalau diam-diam menjadi pendukung terbesar Perda Syariah?" ujar Grace.

"Dari penelitiannya menyimpulkan bahwa PDI Perjuangan dan Golkar terlibat aktif dalam merancang, mengesahkan, dan menerapkan 443 Perda Syariah di seluruh Indonesia. Penelitian Robin Bush juga menyimpulkan hal yang sama. Ini bukan saya, lho, yang bilang. Saya hanya membacakan kesimpulan riset ilmiah," imbuhnya. (**H)


Sumber: kumparanNEWS




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar