Tokoh Masyarakat Datangi LAM Riau Minta Buku Ditarik,

Buku Mapel Budaya Melayu Riau Kelas IX SMP Terbitan Inti Prima Aksara Sebut Desa Sekijang Kecamatan Tapung Hilir Kampar Tempat" Kawin Lari"

  • Jumat, 17 Agustus 2018 - 19:09:54 WIB | Di Baca : 2729 Kali

 

 


SeRiau- Pagi tadi, Kamis (16/8) kantor LAM Riau kedatangan beberapa orang warga Sekijang dan Masyarakat Tapung lainnya terkait permasalahan buku Mapel Budaya Melayu Riau untuk kelas IX SMP terbitan Inti Prima Aksara (Inprasa) yang memuat fitnahan terhadap desa Sekijang kecamatan Tapung Hilir, Kampar sebagai desa tempat persembunyian pasangan kawin lari.

Loading...

Sebagaimana yang disampaikan Fatmawati tentang kedatangan warga Sekijang dan beberapa masyarakat Tapung ini bertujuan untuk berkoordinasi, bersinergi dan bekerjasama, juga meminta bantuan LAM Riau untuk menarik buku yang sudah terlanjur beredar.

"Kami datang ke Lembaga Adat Melayu Riau ini ingin berkoordinasi, bersinergi dan bekerjasama, bahkan meminta bantuan LAM untuk penarikan buku ini, karena LAM punya hak untuk melakukan itu, sebab buku Budaya Melayu Riau harus melalui verifikasi LAM Riau", ucap Fatmawati.

Fatmawati yang juga dosen di UIR ini menceritakan kronologis awal ditemukannya tulisan yang menjadi polemik itu bermula dari salah seorang tetangganya anak SMP kelas IX yang menanyakan tentang kebenaran tulisan pada buku Mapel Budaya Melayu Riau (BMR) terbitan Inprasa.

"Kebetulan tetangga saya anak SMP negeri kelas 3 SMP, dia bertanya, Benarkah Sekijang ini tempat kawin lari", ucap Fatma menirukan pertanyaan tetangganya.

Mengetahui hal tersebut Fatmawati berkoordinasi dengan H.Ahmad Taridi, Kepala Desa Sekijang kecamatan Tapung Hilir, dan sempat H.Ahmad Taridi menduga Sekijang yang dimaksud bukan Sekijang yang ada diTapung, melainkan Sekijang mati yang ada di Pelalawan.

"Tapi sekarang dibuku ini ditulis dengan jelas desa Sekijang kecamatan Tapung Hilir kabupaten Kampar", tegas Fatmawati menjelaskan.

Dalam sambutannya dikantor LAM Riau pagi tadi Fatmawati juga merasa geram dan kesal dengan beredarnya buku tersebut kesekolah dan diajarkan kesiswa tanpa melalui seleksi atau pemeriksaan dari LAM Riau, bahkan tanpa diketahui oleh berbagai pihak, seperti dinas pendidikan kota Pekanbaru.

"Saat ditanyakan kedinas pendidikan kota, mereka tidak tau, dan buku ini tidak pernah masuk ke LAM, artinya tidak pernah melalui lulus seleksi, pemeriksaan, verifikasi dari LAM, tapi kenapa beredar kesekolah-sekolah, ini membuat kita semakin geram, buku ini diedarkan kesekolah, diajarkan kesiswa, apakah tidak ada pengawasan dalam pengadaan buku kesekolah", paparnya

Senada dengan itu Ketua LAM Riau, Al Azhar mengatakan dalam penerbitan buku tersebut pihak penulis memang tidak ada koordinasi ataupun verifikasi dalam hal itu.

LAM Riau juga tidak terima dengan penulisan buku yang ditulis secara serampangan dan tanpa data yang akurat tersebut.

"Menyamakan desa Sekijang dengan Sekijang mati, ini menunjukkan bahwa buku ini ditulis secara serampangan dan tidak mempunyai kajian pasti dalam penulisan sebuah buku", ujar Al Azhar.

Al Azhar juga menegaskan tak perlu ragu pada LAM Riau, sebab LAM Riau berada diposisi yang benar dan juga tidak terima atas penulisan buku itu.

"Jadi jangan ragu lagi, Lembaga Adat ini berada diposisi yang benar, Lembaga Adat juga tidak terima dengan proses pembuatan buku ini", ujarnya.

Al Azhar juga menambahkan LAM Riau sepakat untuk meminta buku yang terlanjur beredar agar ditarik, dan juga setuju apabila warga Sekijang ingin menempuh jalur hukum.

"Lembaga Adat Melayu Riau sepakat dengan Datuk-datuk untuk meminta buku ini ditarik, kemudian kalau Datuk-datuk merasa terhina, merasa difitnah, Datuk-datuk mau teruskan itu kemasalah hukum, Lembaga Adat Melayu Riau setuju", tambahnya.

Selain itu Al Azhar juga menyampaikan maaf atas kelalaiannya karna terlambat mengetahui isi buku tersebut.

"LAM meminta maaf atas keabaian, kecuaian karna terlambat membaca buku tersebut", ujarnya.

Selain Al Azhar, Ketua LAM Riau, dan beberapa orang lainnya, turut hadir Sapaat, Ketua Ikatan Keluarga Sungai Tapung (IKST) dan Amir Hamzah dari Keluarga Besar Sungai Tapung (KBST) Pekanbaru.

Dan dari desa Sekijang juga hadir kepala desa Sekijang (H.Ahmad Taridi), Datuk Bendaro (Jhon Kenedi), Datuk Mangkuto (Yusran), Ninik Mamak (Saparudin), tokoh Pemuda Sekijang (Wal Asri) dan Basrul selaku aparat pemerintahan desa Sekijang.(Raf/ rilis)




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar