Din Syamsuddin Tidak Yakin Ada 41 Masjid Terpapar Radikalisme

  • Kamis, 12 Juli 2018 - 00:26:52 WIB | Di Baca : 25 Kali

 

SeRiau – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengatakan tidak yakin ada 47 masjid di institusi pemerintahan yang mengajarkan paham radikalisme. 

Ia pun mempertanyakan penelitian dari Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) yang merilis 41 masjid terpapar radikalisme tersebut.

Loading...

"Ya saya ragukan hasil survei atau penelitian itu ya. Saya belum tahu metodologinya. Apalagi jika dikaitkan dengan lembaga dan institusi," kata Din di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Mantan ketua PP Muhammadiyah ini mengakui di setiap masjid ada mubalig yang keras dalam menyampaikan isi ceramah. Namun, hal tersebut masih itu dapat dimaklumi.

"Sebaiknya hal-hal seperti itu harus benar-benar clear dengan bukti, fakta, karena hal seperti ini sangat sensitif. Bisa menimbulkan ketersinggungan di kalangan umat Islam. Tidak hanya pengurus masjid yang dituduhkan itu, tapi bisa merasa: 'Wah kita ini dituduh sebagai kaum radikal'. Ini yang tidak positif selama ini," ujar dia.

Din berpesan kepada lembaga survei atau penelitian mana pun untuk berhati-hati. Apalagi, ia mengaku sering mendengar adanya keluhan dari umat Islam mengenai penelitian ini.

Selain itu, lanjut dia, umat Islam juga heran mengapa penelitian tersebut hanya di masjid. Sementara tempat ibadah lain tidak dilakukan penelitian sama.

"Dari kalangan umat Islam itu sering curhat, kenapa hanya masjid yang diteliti. Kenapa hanya rumah ibadat orang Islam yang dinyatakan radikal, sementara yang lain tidak. Hal-hal seperti inilah yang harus dijaga," terangnya.

Din menambahkan, tudingan ini juga telah dibantah oleh Wakapolri Komjen Syafruddin yang merupakan wakil ketua umum Dewan Masjid Indonesia (DMI). 

Maka itu, Din meminta masalah ini tidak lagi dikembangkan dan disebarluaskan lantaran berdampak menimbulkan kecemasan serta ketegangan.

"Ini yang secara psikologis tidak positif bagi upaya kita mengembangkan kerukunan dan harmoni. Kalau umat Islam yang besar itu merasa tertuduh, merasa tidak nyaman karena dituduh radikal, ada yang berpendapat: 'Kalau gitu kita radikal saja sekaligus'," tegasnya.

 

 

 

Sumber Okezone




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar