Indahnya Muslim dan Nasrani Berpadu di Masjid Al Hidayah

  • Ahad, 03 Juni 2018 - 00:57:31 WIB | Di Baca : 84 Kali

SeRiau - Masjid itu berdiri kokoh di Dusun Nanga Lanang, Desa Lidi Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Beratapkan seng, luas bangunannya sekitar 100 meter persegi. Sekira 300 jemaah dapat ditampung di masjid tersebut.  

Al Hidayah nama masjid tersebut. Terletak hanya sepelemparan batu dari bibir pantai Laut Sawu, suasana masjid yang dibangun tahun 2000 ini tampak begitu sahaja. Meski minim fasilitas, seperti tidak ada jaringan air bersih, namun saban hari masjid ini tetap dipadati jemaah. 

Jemaah yang datang ke Masjid Al Hidayah dari empat desa, yaitu Desa Lidi, Desa Bea Ngencung, Desa Compang Ndejing, dan Sesa Satar Lenda.

Loading...

Tak jauh dari Masjid Al Hidayah, persis di seberang jalan di atas bukit, berdiri kokoh Gereja Stasi Nanga Lanang. Nyaris tak ada sekat antar umat Nasrani sebagai mayoritas penduduk di sana, dengan warga Muslim yang umumnya merupakan keturunan suku Ende Flores. Mereka begitu harmonis meski beda agama dan adat istiadat.

Saban bulan suci Ramadan, lingkungan masjid ini rutin dibersihkan. Menariknya, pemuda Katolik di Dusun Nanga Lanang ikut dalam kegiatan itu.

Mereka bergantian menebas rumput dan membersihkan jalan masuk. Ada juga yang mengecat ulang bangunan masjid yang memudar sisa pengecatan saat Ramadan sebelumnya.

Doni Parera, aktivis sosial sekaligus tokoh muda Katolik di Desa Lidi, memimpin kerja bakti di Masjid Al Hidayah bersama pemuda Muslim dan Katolik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan bersih-bersih masjid dilakukan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

“Untuk merawat kebersamaan dan persaudaraan, masyarakat Dusun Nanga Lanang, Desa Lidi dan Beangencung bergotong-royong bersihkan dan cat masjid Al Hidayah supaya bisa nyaman saat digunakan ketika salat Ied nanti. Kegiatan ini diakhiri dengan buka puasa bersama,” kata Doni Parera kepada VIVA, Sabtu petang, 2 Juni 2018.

Doni mengaku bangga bisa merasakan hidup akrab dengan penduduk Muslim di Dusun Nanga Lanang yang jumlahnya 85 kepala keluarga (KK).

“Ke-Indonesiaan kita begitu terasa di Nanga Lanang. Saya kira situasi seperti ini amat jarang ditemukan. Saya berani bilang kalau mau merasakan kebhinekaan Indonesia datanglah ke sini,” ujarnya.

Gagasan Bersama Pastor

Jainudin Koda, salah satu panitia pembangunan Masjid Al Hidayah menuturkan, pendirian masjid ini digagas bersama seorang pastor asal Jerman bernama Hans Frungkle. Menurut Jainudin, Masjid Al Hidayah dibangun murni swadaya masyarakat Desa Lidi.

“Saya ingat betul, tahun 2000 saat masjid ini dibangun, atap (seng) masjid ditanggung oleh Pater Hans (Frungkle). Selain itu murni sumbangan wan koe etan tua (seluruh masyarakat). Sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujar Jainudin.

Kedekatan umat Nasrani dan Muslim di Desa Lidi, kata Jainudin, terjalin jauh sebelum masjid ini dibangun. Malah, umat Muslim di Desa Lidi terlibat sejak lama dalam pengamanan misa besar di gereja, seperti Natal dan Paskah.

“Saat salat Idul Fitri dan Idul Adha, yang ngurus parkiran atau pengamanan itu pemuda Katolik. Kalau Natal dan Paskah, kami umat Muslim juga dikasih tugas oleh dewan gereja,” ujarnya.

Pria 42 tahun ini optimistis, kebersamaan antara kaum Nasrani dan pemeluk Muslim di Desa Lidi akan terus terjaga. Ia berharap semoga satu saat kelak, Dusun Nanga Lanang yang saat ini memiliki jumlah penduduk 2000-an jiwa bisa menjadi contoh kampung toleransi antar umat beragama. (**H)


Sumber: VIVA




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar