Tulisan Gus Mus Bela Puisi Sukmawati Hoaks!

  • Kamis, 05 April 2018 - 07:42:43 WIB | Di Baca : 173 Kali

SeRiau - Kontroversi puisi Sukmawati Sokarnoputri menyeret tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Dalam tulisan yang mengatasnamakan Gus Mus tersebut, lebih condong membela apa yang telah dibuat Sukmawati.

Melalui akun Facebook pribadinya Ienas Tsuroiya, putri mustasyar PBNU itu, mengklarifikasi bahwa apa yang telah tersebut melalui media sosial itu adalah hoaks.

“Sebenarnya saya enggak mau menanggapi soal puisi Sukmawati itu. Lelah. Tapi pagi ini mendapat laporan dari adik saya, ada yang menulis pembelaan terhadap Sukmawati, dengan (lagi-lagi) MENCATUT nama Abah. Sekali lagi saya tegaskan, postingan yang beredar di WA itu, BUKAN tulisan Abah,” tulis Ienas seperti yang dilansir dari situs resmi NU di www.nu.or.id, Rabu (4/4/2018).

Menurut Ienas, tulisan yang beredar itu luar biasa kacau, dipenuhi tagar di sana-sini. “Pokoknya secara kualitas, sampah banget dah. Seharusnya, begitu membaca tulisan sekacau itu, orang langsung tahu, ngga mungkin itu tulisan Abah. Well, ternyata masih banyak yang merasa perlu bertanya langsung ke Abah. Sad, indeed,” tulisnya.

Sekedar diketahui, bukan kali pertama nama Gus Mus dilibatkan dalam polemik sebuah isu di media sosial. Pada musim kampanye pemilihan presiden 2014 lalu, nama Gus Mus juga dicatut dalam sebuah meme yang berisi dukungan terhadap salah catu calon presiden. Peristiwa mirip terjadi lagi pada musim kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah saat ini.

Hingga berita ini dimuat, belum ada penjelasan resmi dari KH A Mustofa Bisri terkait kontroversi puisi Sukmawati yang dibaca di gelaran pertunjukkan busana Anne Avantie beberapa waktu lalu itu. Sementara itu, sebagian kelompok tengah berusaha melaporkan putri Bung Karno tersebut atas tuduhan penodaan agama.

Berikut tulisan yang memakai nama Gus Mus yang membela Sukmawati dan tersebar melalui media sosial:

Tanggapan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) Prihal Puisi yang dibawakan Ibu Sukmawati.

Dalam merespon puisi #IBUINDONESIA sebagian teman kita sudah pada tahap #mencaci maki Ibu sukmawati dengan menyebutnya #NenekPeot, #MakLampir tak beragama, dan bahkan menyebutnya #penista syariat agama.

Sementara aku, masih asyik #kepo dibagian mana puisi tersebut #bermasalah?

Apakah karena ibu sukmawati dalam puisinya berujar

" Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, Lebih cantik dari cadar dirimu"

Apakah karena #penggal kalimat tersebut lantas beliau dihukumi #menista syariat Islam? Lalu bagimana status #cadar itu sendiri, apakah termasuk syariat atau bukan? Nyatanya smpai hari ini terdpt dua pendapat tentang cadar, satu mengatakan sbgai syariat yang satunya mengatakan hnya bagian produk budaya. Dan bisa jadi ibu sukmawati sama spertiku mengambil pendapat yang kedua. Sebab itu karena sama-sama produk budaya maka dalam kontek ke-indonesia-an #konde lebih #sakral nilainya.

Atau apakah karena dalam puisinya Ibu sukmawati berujar

"Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan adzan mu"

Apakah karena penggal kalimat tersebut lantas beliau divonis menista syariat Islam? Perhatikan kalimatnya, disitu disebutkan "lebih merdu dari alunan adzan mu". Ibu sukmawati menggunakan kata #alunan bukan #nilai, disitu terdapat kata ganti "mu", merujuk kepada siapa kata ganti ini? Bisa jadi ktika dalam proses penciptaan puisi Ibu sukmawati mendengar alunan adzan dari surau sebelah rumah yng mengalun dari bibir keriput mbah ngadiman, suaranya #melengking dan #garing. Maka benar saja suara alunan adzan dari mulut mbah ngadiman kalah #merdu dari kidung ibu pertiwi. Kidung apa yang mrupakan produk ibu pertiwi? Bisa saja #DandangGulo yang mengalun dari suara emas sinden marsinah.

Kenapa yang adzan harus mbah ngadiman? Mungkin karena yang muda bersuara merdu kemerduannya tak lagi sisa telah habis buat #takbir disaat #demo, atau mungkin suaranya telah serak karena kebanyakan ngojahi lan ngocek'i Kyai.

Jadi akhirnya, puisi ini pun mnjadi #kritik tersendiri.

Ya, ktika sbuah karya sastra terlebih berupa puisi telah dilempar keranah publik, maka publik punya hak memberikan penafsirannya, namun kalian #TidakPernah mencoba #menafsiri atau #mengkritisi, kalian hanya #menghujat dan #memaki. Sebab hnya itu yang kalian bisa.
(*JJ)



Sumber: Okezone.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar