Trump Pecat Menlu AS Rex Tillerson, Harga Minyak Dunia Anjlok

  • Rabu, 14 Maret 2018 - 07:22:54 WIB | Di Baca : 478 Kali

SeRiau - Harga minyak mentah dunia terperosok lebih dari satu persen pada perdagangan Selasa (13/3) akibat kekhawatiran terhadap kenaikan produksi minyak Amerika Serikat (AS). Pelemahan harga minyak juga mengikuti pergerakan pasar modal yang bergejolak usai Presiden Donald Trump mengumumkan pemecatan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson.

Dilansir dari Reuters Rabu (14/3), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$0,65 atau 1,06 persen menjadi US$60,71 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,31 atau 0,5 persen menjadi US$64,64 per barel.

Pasar minyak ditekan oleh berbagai faktor selama sesi perdagangan, termasuk pelemahan pasar modal yang akhir-akhir bergerak beriringan dengan pasar minyak.

Pemecatan Tillerson berisiko untuk keberlanjutan kesepakatan multilateral terkait pembatasan kapabilitas senjata nuklir Iran yang disepakati pada 2015 lalu. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal potensi imbasnya pada produksi minyak negara produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu.

Trump telah menunjuk Direktur CIA Mike Pompeo untuk menggantikan Tillerson. Pompeo pernah menyerukan untuk menghapus kesepakatan nuklir Iran.

Selain itu, Trump juga mengancam untuk keluar dari kesepakatan antara Iran dan enam negara terkuat di dunia itu kecuali Kongres AS dan sekutu Eropa menyempurnakan kembali kesepakatan tersebut dengan kesepakatan baru.

"Pasar sedang bergoyang akibat imbas potensial terhadap produksi Iran di masa mendatang dan juga terhadap kondisi bercabang untuk Timur Tengah secara keseluruhan," ujar Manajer Senior Saxo Bank Ole Hansen.

Selain kekhawatiran soal kondisi di timur tengah, merosotnya harga minyak juga didorong produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor sepanjang sejarah. Berdasarkan data mingguan pekan lalu, produksi minyak AS mencatatkan kenaikan lebih jauh menjadi 10,3 juta barel per hari (bph).

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) awal pekan ini memprediksi produksi minyak AS yang berasal dari shale bakal naik menjadi 6,95 juta bph pada April mendatang.

"Tidak ada yang menghentikan kami (AS) dan level kekhawatiran OPEC bakal tumbuh," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures Philip Streible di Chicago.

Sebagai catatan, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia menyepakati kebijakan pemangkasan produksi sebanyak 1,8 juta bph demi mendongkrak harga minyak. Kebijakan tersebut telah berjalan sejak awal 2017 dan bakal berakhir pada akhir 2018.

Persediaan minyak mentah pekan lalu juga diprediksi bakal melanjutkan kenaikan untuk tiga minggu berturut-turut.

Kekhawatiran terhadap pasokan berimbas pada kurva forward pada pasar berjangka di mana kontrak Mei telah melampaui April yang menyebabkan harga kontrak Mei lebih tinggi dibandingkan April. Kondisi ini dikenal dengan istilah 'contango'.

Ketika kontrak awal bulan (front-month) diperdagangkan di level yang lebih rendah dibandingkan kontrak ke depannya, hal ini menandakan tumbuhnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan suplai dan mengurangi kebutuhan untuk membeli minyak sekarang. (*JJ)



Sumber: CNN Indonesia




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar