Indonesia Ajukan Keberatan Terkait Peraturan Baru dari BWF

  • Ahad, 25 Februari 2018 - 12:28:02 WIB | Di Baca : 153 Kali

SeRiau – Belum lama ini, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mengeluarkan sejumlah aturan baru untuk diberlakukan dalam pertandingan bulu tangkis internasional. Namun begitu, aturan tersebut nyatanya mendapat tentangan dari Federasi Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) karena dinilai akan memberatkan para atlet dan juga tidak relevan.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, menerangkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat untuk berdiskusi dengan pihak-pihak terkait mengenai peraturan baru tersebut. Langkah pertama yang diambil oleh PBSI adalah melakukan diskusi dengan Konfederasi Bulu Tangkis Asia (BAC).

Susy sendiri pun mengaku tak cocok dengan perturan baru yang dikeluarkan BWF. Misalnya mengenai skor pertandingan, yang semula dalam sebuah pertandingan terdiri dari dua gameditambah rubber (jika diperlukan), dengan masing-masing game mengumpulkan poin hingga 21, kini menjadi skor 11 poin dikali lima game.

Loading...

Susy menilai hal tersebut akan memberatkan para atlet, karena akan mengubah pola latihan dan juga cara bertanding yang selama ini sudah dijalani. Selain itu, Susy juga merasa keberatan dengan peraturan pemain elite yang diwajibkan bertanding minimal 12 turnamen dalam setahun, karena ia marasa hal tersebut akan membuat para pemain kelelahan.

Namun, Susy beserta PBSI menyadari bahwa Indonesia tidak akan bisa menentang peraturan baru BWF tersebut seorang diri. Maka dari itu, PBSI akan mencoba berdiskusi dengan negara-negara lain juga guna mencari dukungan dan solusi terbaik terkait peraturan anyar itu.

“Akan ada pertemuan dengan BAC bulan depan, kami akan diskusikan dengan negara lain, karena beberapa negara memang keberatan juga, bukan cuma Indonesia. Peran Indonesia juga harus lebih aktif, karena banyak aturan yang sifatnya mendadak dan tidak ada pihak yang bisa menjelaskan secara detil, apa tujuan aturan baru ini?” jelas Susy, menyadur dari laman resmi PBSI, Minggu (25/2/2018).

“Mungkin saja akan ada pemungutan suara, saya harus cek lagi dengan tim hubungan internasional soal ini. Indonesia adalah salah satu negara yang dipandang di bulu tangkis, seperti China, Korea, Denmark, Malaysia yang punya suara cukup kuat untuk memberikan masukan,” lanjutnya.

 

 


sumber Okezone.com




Loading...

Berita Terkait

Tulis Komentar