​12 Kecamatan Beradu Sedap Makanan Tradisional

  • Ahad, 15 Oktober 2017 - 08:31:53 WIB | Di Baca : 909 Kali

 KARIMUN, SeRiau - Aneka jajanan tradisional ciri khas dari 12 Kecamatan se Kabupaten Karimun ikut disuguhkan pada acara parade jajanan nusantara, yang digelar Pemkab Karimun melalui DInas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karimun, Sabtu di Coastal Area.

Bupati Karimun Aunur Rafiq mengatakan, jajanan nusantara yang digelar adalah menampilkan makanan khas dari 12 Kecamatan, termasuk makanan tradisional turun temurun masyarakt Melayu dari bumi berazam, yakni olahan sagu menjadi makanan lakse. "Kita ingin memperkenalkan bahwa Karimun memiliki keragaman makanan khas yang punya ciri khas dari masing-masing Kecamatan, sehingga hari ini kita tampilkan yang memang hari ini kita melalui jajanan nusantara diacara HUT Kabupaten Karimun," kata Rafiq.

Aneka makanan tradisional yang ditampilkan di masing-masing Kecamatan antara lain adalah, Kecamatan Durai kue bangkit, Kecamatan Ungar lendot dan cendol sagu, Kecamatan Kundur Barat bubur sumsum, Kecamatan Kundur lepat loe dan burasak, Kecamatan Belat mpek-mpek ikan lome, Kecamatan Kundur Utara bolu gulung, Kecamatan Meral Barat kue kepal-kepal air kelapa, Kecamatan Tebing serabi, Kecamatan Moro otak-otak dan pekdos, Kecamatan Buru telur asin dan lakse goreng, Kecamatan Karimun roti kirai dan terakhir Kecamatan Meral bubur belauk. Sementara, salah seorang peserta yang menyajikan jajanan nusantra makanan khas tradisional di Kecamatan Kundur, Hamidah mengatakan, lepat loe dan burasak sebenarnya merupakan makanan yang disuguhkan oleh suku Bugis pada saat hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.

"Sengaja kami sajikan makanan ciri khas ini karena sudah tidak asing lagi ditanah Melayu dengan lepat loe dan burasak. Ini merupakan cirikhas masyarakat Kundur kalau ada acara kebesaran," kata Hamidah. Satu bungkus dijual seharga Rp30 ribu isinya tujuh bungkus kecil untuk lepat loe dan burasak Rp25 ribu berisikan tujuh bungkus kecil. Bupati Karimun Aunur Rafiq pun tidak mau ketinggalan, ia membeli empat bungkus lepat loe dan burasak.

Menurut Hamidah, pembuatan lepat loe hanya berbahan pulut atau ketan dicampur santan yang dikukus terlebih dahulu, setelahnya dibungkus daun pisang kecil-kecil dan dari tujuh bungkus digabung jadi satu dibungkus besar dengan daun pisang. Lalu dimasukkan kedalam wajan untuk direbus selama delapan jam nonstop dengan kondisi api yang harus stabil. Sedangkan burasak dibuat dengan bahan berupa beras dicampur santan yang dikukus lebih dulu, sama seperti lepat loe, dibungkus daun pisang dan dimasak selama delapan jam. "Perlu diperhatikan pembungkusnya yakni daun pisang, tidak semua daun pisang bisa dipakai membungkus.

Hanya daun pisang kepok saja yang bisa dipakai, selain itu tidak bisa dan kalau tetap dipaksakan maka hasilnya akan rusak dan pecah-pecah," kata Hamidah. Biasanya, lepat loe dan burasak dimakan dengan kuah rendang atau kacang, dan bisa juga dicocol dengan serunding, sehingga menambah rasa yang makin nikmat.(*)



Berita Terkait

Tulis Komentar